Kembali Unduh PDF
Materi DG-1 (BePI)

03 Gaya Hidup yang Berpusat pada Injil 1 Merayakan Penebusan Kristus

Sesi 3

GAYA HIDUP YANG BERPUSAT PADA INJIL (1)

MERAYAKAN PENEBUSAN KRISTUS

Semua orang Kristen pasti pernah mendengar kata Injil. Hampir semua setuju bahwa Injil sangat penting. Namun, tidak semua memiliki pemahaman yang sama tentang seberapa pentingnya Injil dalam hidup mereka.

Mereka yang benar-benar memahami pentingnya Injil akan meletakkan Injil sebagai poros yang menggerakkan seluruh kehidupan mereka. Atau dengan kata lain, mereka menjadikan Injil sebagai gaya hidupnya. Jadi, apa yang dimaksud dengan gaya hidup yang berpusat pada Injil?

Gaya hidup yang berpusat pada Injil berarti merayakan penebusan dan keberhargaan Kristus bagi kita dengan cara menjadikan Injil sebagai cara pandang (perspektif), dorongan (motif), teladan (model), dan kekuatan (modal) dalam melakukan apapun.

Dalam sesi ini kita hanya akan berfokus pada bagian awal, yaitu merayakan penebusan Kristus. Tetapi sebelum membahas hal ini, kita perlu menggarisbawahi bahwa dalam definisi di atas, “merayakan penebusan dan keberhargaan Kristus” sengaja diletakkan di depan sebagai sebuah penekanan. Apa yang kita lakukan (menjadikan Injil sebagai cara pandang, dorongan, teladan, dan kekuatan) harus didahului dengan kesadaran dan pengalaman tentang apa yang Allah telah lakukan bagi kita (menebus kita dengan harga yang mahal).

Sekarang mari kita membahas tentang “merayakan”. Ada banyak peristiwa dalam hidup kita, tapi tidak semua perlu untuk dirayakan. Kita hanya merayakan kejadian-kejadian tertentu yang sangat penting atau istimewa, terutama yang membawa sukacita bagi kita.

Mengapa penebusan Kristus sangat penting untuk dirayakan? Karena persoalan kita yang terbesar yaitu dosa sudah dibereskan oleh Kristus di kayu salib dan ketakutan kita yang terbesar, yaitu maut atau kematian sudah dikalahkan di dalam kubur yang kosong.

DOSA ADALAH PERSOALAN YANG TERBESAR

Dalam dunia yang semakin permisif (cenderung memperbolehkan segala sesuatu), dosa menjadi terlalu biasa. Kita menyepelekan keseriusannya, padahal dosa adalah persoalan terbesar bagi manusia.

Pertama, dosa adalah sumber segala persoalan. Semua persoalan dalam hidup kita, bersumber dari dosa. Secara universal, penderitaan ada dalam dunia sejak manusia jatuh ke dalam dosa (Kejadian 3, Roma 8:22-23). Secara partikular, banyak kesusahan terjadi pada kita karena keberdosaan kita (Ibrani 12:4-11).

Kedua, dosa mencemarkan seluruh aspek kehidupan kita. Tindakan yang berdosa lahir dari pikiran, perasaan, maupun kehendak yang berdosa (Matius 15:19). Bahkan tanpa perlu melakukan tindakan dosa, kita tetap berdosa dengan pikiran, perasaan, maupun kehendak kita yang berdosa (Efesus 4:17-19).

Ketiga, dosa tidak mampu kita selesaikan sendiri. Karena dosa telah mencemarkan kodrat kita dan kita tidak dapat mengubah kodrat kita, maka selamanya dosa akan menjadi masalah yang tidak bisa diselesaikan oleh kita sendiri (Efesus 2:1-3). Kita tidak berdaya di hadapan dosa.

Jika dosa adalah persoalan terbesar kita, maka dosa yang dibereskan merupakan sebuah peristiwa yang perlu dirayakan.

MAUT ADALAH KETAKUTAN YANG TERBESAR

Tidak semua orang menganggap kematian adalah ketakutan yang terbesar. Sejarah menunjukkan ada banyak orang berani mati untuk sebuah tujuan. Namun, kematian sebagai upah dosa bukan hanya berbicara mengenai kematian secara jasmani, tapi juga kematian secara rohani. Kematian secara rohani inilah yang jauh lebih menakutkan.

Kematian secara rohani berbicara tentang keterpisahan manusia dengan Allah. Ketika Adam dan Hawa jatuh dalam dosa, mereka harus diusir dari hadirat Tuhan (Kejadian 3:23-24). Sebenarnya inilah yang menjadi inti dari hukuman di neraka, yaitu dijauhkan dari hadirat Tuhan dan dari kemuliaan kekuatan-Nya (2 Tesalonika 1:9).

Jika kita memahami hal ini, maka akibat dosa akan terlihat sangat mengerikan. Seburuk apa pun keadaan kita di bumi, masih ada kebaikan Tuhan yang kita alami. Misalnya, ketika kita sakit, masih ada dokter, obat, atau penahan rasa sakit. Kita bahkan masih bisa mengharapkan kematian sebagai akhir dari semua penderitaan. Namun, dijauhkan dari hadirat Tuhan selamanya berarti tidak ada lagi kebaikan apapun yang meringankan atau mengakhiri penderitaan kita. Keterpisahan dari Allah jauh lebih serius daripada yang selama ini kita biasanya pikirkan.

Jika maut adalah ketakutan terbesar kita, maka maut yang dikalahkan merupakan sebuah peristiwa yang perlu dirayakan.

AYAT HAFALAN

Namun demikian janganlah bersukacita karena roh-roh itu takluk kepadamu, tetapi bersukacitalah karena namamu ada terdaftar di sorga. - Lukas 10:20

PERENUNGAN PRIBADI DAN BERBAGI CERITA

1. Penjelasan mana terkait dosa dan maut yang baru Anda ketahui hari ini?

2. Apakah selama ini penebusan Kristus sudah menjadi sumber sukacita yang Anda rayakan? Mengapa?

3. Apa yang paling Anda syukuri dari kasih karunia keselamatan menurut Anda sendiri? Jelaskan.