Sesi 5
GAYA HIDUP YANG BERPUSAT PADA INJIL (3)
INJIL SEBAGAI PERSPEKTIF
Dalam bab ini kita akan membahas elemen penting selanjutnya dalam definisi tentang gaya hidup yang berpusat pada Injil, yaitu menjadikan Injil sebagai perspektif. Injil bukan hanya objek pengetahuan melainkan cara pandang. Ini bukan sekadar “apa”, melainkan “bagaimana”.
Bagi sebagian orang, memandang segala sesuatu dari perspektif Injil jelas menjadi perkara yang tidak gampang. Yang diperlukan bukan hanya sekadar penambahan pengetahuan, tetapi perombakan cara pandang. Bukan sekadar koleksi data, melainkan pergeseran paradigma.
Salah satu kehidupan tokoh Alkitab yang paling jelas menggambarkan perubahan cara pandang menurut Injil adalah Paulus. Dia dahulu adalah penganiaya jemaat yang bersemangat, lalu menjadi perintis jemaat yang hebat. Cara pandangnya terhadap segala sesuatu juga menjadi baru. Dalam bab ini kita hanya akan menyoroti beberapa saja yang penting.
Pertama, memandang diri sendiri. Injil memampukan kita untuk melihat diri sendiri secara seimbang dan apa adanya. Jati diri kita utuh di dalam Kristus. Kita mensyukuri kelebihan sekaligus merengkuh kehancuran. Semuanya dilihat dari kacamata kasih karunia. Keseimbangan ini terlihat dari pernyataan Paulus: “Karena aku adalah yang paling hina dari semua rasul, sebab aku telah menganiaya Jemaat Allah. Tetapi karena kasih karunia Allah aku adalah sebagaimana aku ada sekarang, dan kasih karunia yang dianugerahkan-Nya kepadaku tidak sia-sia. Sebaliknya, aku telah bekerja lebih keras dari pada mereka semua; tetapi bukannya aku, melainkan kasih karunia Allah yang menyertai aku” (1 Korintus 15:9-10).
Siapa diri kita tidak ditentukan oleh apa yang kita punya, prestasi kita, keluarga kita, keadaan fisik kita, maupun tuntutan orang lain di sekitar kita. Identitas kita ditentukan oleh Injil. Siapa kita? Kita adalah orang berdosa yang dilimpahi dengan kasih karunia. Kita adalah orang lemah yang kuat di dalam Kristus.
Kedua, memandang orang lain. Ketika seseorang dihidupkan oleh Injil dan menghidupi Injil, dia akan memiliki perspektif yang benar tentang orang lain. Dia tidak lagi menilai menurut ukuran manusia (2 Korintus 5:16). Dia akan memerlakukan orang lain seperti Tuhan sudah memerlakukan orang itu (Roma 14:3). Sikapnya akan diwarnai dengan nasihat, penghiburan kasih, persekutuan Roh, kasih mesra dan belas kasihan (Filipi 2:1).
Kebenaran ini terasa lebih berat untuk dilakukan ketika kita berhadapan dengan orang yang sangat menjengkelkan. Beragam pertanyaan seringkali menjadi pergumulan: Berapa kali kita harus mengampuni? Apakah orang semacam itu masih layak untuk dikasihi? Bagaimana jika orang tersebut menyalahpahami dan menyalahgunakan kasih kita? Melalui terang Injil kita mengerti bahwa pengampunan tidak mengenal batasan, alasan kasih terletak pada karya Tuhan, dan kasih memang seringkali direspons dengan kesalahpahaman dan penyalahgunaan.
Ketiga, memandang kehidupan. Mereka yang berada di dalam Kristus akan menyadari bahwa tujuan dan kepemilikan hidup mereka telah berubah (2 Korintus 5:15). Di dalam terang Injil, Paulus berkata: “aku hidup untuk Allah” (Galatia 2:19) dan “bukan lagi aku sendiri yang hidup, melainkan Kristus yang hidup di dalam aku” (Galatia. 2:20).
Adalah sangat ironis jika mereka yang mengaku sudah dihidupkan melalui Injil ternyata tidak mau hidup untuk Injil. Mereka menggunakan Allah untuk menggenapi tujuan hidup mereka dan bukannya menggunakan hidup mereka untuk menggenapkan tujuan Tuhan. Bagi mereka, penyertaan Tuhan (dalam rencana mereka) lebih penting daripada pimpinan Tuhan (ke dalam rencana-Nya).
Terakhir, memandang penderitaan. Dari perspektif Injil, penderitaan dan kematian seharusnya tidak lagi menakutkan. Bukan karena situasi buruk akan diubahkan oleh Tuhan, tetapi karena cara pandangnya yang diubahkan. Ketika Paulus berada dalam penjara dan sedang menantikan keputusan terakhir dari kaisar, dia menghadapi semuanya dengan penuh sukacita. Dia bersyukur bahwa dari situasi yang buruk tersebut Allah telah mengerjakan beberapa hal yang baik bagi kepentingan Injil (Filipi 1:12-14). Apa pun hasil pengadilan nanti, dia mengaitkannya dengan Kristus: mati berarti diam bersama Kristus, sedangkan hidup berarti berbuah bagi Kristus (Filipi 1:21-23). Tidak ada keluhan, penyesalan atau kekuatiran.
Sayangnya, sikap di atas jarang terlihat dalam diri banyak orang Kristen. Mereka mudah kalah oleh masalah. Penderitaan tidak direngkuh dan malah dijadikan alasan untuk mengeluh. Kematian menjadi sesuatu yang menakutkan. Mereka lupa bahwa Kristus dengan tenang telah menanggung segala penderitaan. Kristus bahkan telah menang atas kematian.
AYAT HAFALAN
Tetapi apa yang dahulu merupakan keuntungan bagiku, sekarang kuanggap rugi karena Kristus. Malahan segala sesuatu kuanggap rugi, karena pengenalan akan Kristus Yesus, Tuhanku, lebih mulia dari pada semuanya. - Filipi 3:7-8a
PERENUNGAN PRIBADI DAN BERBAGI CERITA
1. Di antara 4 (empat) perubahan, mana yang belum Anda lakukan? Apa kesulitannya?
2. Bagaimana pendapat Anda tentang kalimat: “Jika Anda tidak bisa mengasihi dan menerima diri sendiri dengan benar, maka Anda tidak akan bisa mengasihi dan menerima orang lain dengan benar.”
3. Bagaimana Anda seharusnya memandang orang lain yang pernah mengecewakan atau mengkhianati Anda? Lihatlah dari perspektif Injil.