Kembali Unduh PDF
Materi DG-1 (BePI)

06 Gaya Hidup yang Berpusat pada Injil 4

Sesi 6

GAYA HIDUP YANG BERPUSAT PADA INJIL (4)

INJIL SEBAGAI DORONGAN

Dalam definisi tentang gaya hidup yang berpusat pada Injil kita sudah belajar bahwa Injil bukan hanya menjadi perspektif saja, tetapi sekaligus sebagai dorongan. Sesuatu yang menggerakkan. Alasan di balik suatu tindakan. Poin di atas perlu diperhatikan, karena sikap yang baik saja tidaklah cukup. Motivasi di baliknya juga perlu diuji. Apa yang mendorong suatu tindakan sama pentingnya dengan tindakan tersebut. Jika salah satu salah, keduanya menjadi salah. Itulah kebajikan versi Kristen.

Tidak sulit untuk mengiyakan kebenaran ini. Seseorang kadangkala membungkus maksudnya yang tidak baik dengan sebuah perbuatan yang tampaknya baik. Sebagai contoh, orang-orang Farisi menunjukkan kesalehan (memberi sedekah, berdoa dan berpuasa) di depan orang supaya mendapatkan pujian (Matius 6:1-18). Simon, mantan penyihir di Samaria, terlihat begitu antusias dengan karunia rohani, bahkan dia berani membayar untuk itu. Dalam kenyataannya, antusiasme itu lahir dari hati yang pahit dan jahat (Kisah 8:18-23). Rasul Paulus tidak seperti dua contoh di atas. Kehidupan dan pelayanannya digerakkan oleh Injil.

Pertama, dia rela tidak mendapatkan haknya. Bagi Paulus, memberitakan Injil tanpa upah sudah merupakan upah tersendiri (1 Korintus 9:18). Secara logis maupun teologis dia berhak mendapatkan upah (1 Korintus 9:3-14). Namun, dia sengaja tidak mau menggunakan hak tersebut demi kemajuan Injil (1 Korintus 9:15-17).

Yang pernah mengalami perampasan hak pasti mengerti betapa sulitnya menerima keadaan itu. Kita mungkin bisa tidak mengingini hak orang lain, tetapi kehilangan hak sendiri adalah “binatang buas yang berbeda”. Mudah untuk tidak mengharapkan apa yang memang belum ada di tangan, tetapi melepaskan apa yang ada di tangan sangatlah sukar. Hanya kekuatan Injil yang mampu meregangkan kepalan tangan dan menyerahkan apa yang sudah ada dalam genggaman.

Salah satu esensi Injil adalah penyerahan hak. Kristus rela mengosongkan diri-Nya dan mengambil rupa seorang hamba, supaya Dia bisa melayani kita orang yang berdosa (Filipi 2:6-8). Allah yang tidak terbatas rela membatasi diri-Nya dengan menjadi manusia yang terbatas.

Kedua, dia rela menanggung penderitaan. Pelayanan Paulus sarat dengan bahaya dan siksaan (2 Korintus 11:23-28). Entah berapa kali dia sudah dipenjarakan. Walaupun demikian, dia tidak mengeluh. Selama penderitaan itu membawa kemajuan bagi Injil, dia mau menanggungnya, bahkan bersukacita atasnya (Filipi 1:12-14). Dia mau bersabar dalam penderitaan demi orang-orang pilihan yang harus mendengarkan Injil dan diselamatkan (2 Timotius 2:10).

Perkembangan teknologi dan perubahan semangat zaman telah menghadirkan generasi baru yang tidak tangguh. Bukan karena mereka lemah, tetapi kurang diasah. Orang ingin semua yang instan dan nyaman. Penderitaan menjadi momok yang menakutkan dan perlu dijauhkan. Hasilnya adalah orang-orang yang tidak mau dan tidak mampu bertahan dalam penderitaan. Injil mengingatkan bahwa semua penderitaan sudah dirasakan dan dikalahkan oleh Tuhan.

Ketiga, dia bekerja keras dalam pelayanan. Paulus begitu terbiasa dengan memeras keringat dan mencucurkan air mata dalam pelayanan (Kisah 20:19, 31, 34-35). Dia menyediakan tunjangan hidupnya sendiri dengan membuat tenda (2 Tesalonika 3:7-8; Kisah 18:3). Tanpa bermaksud untuk menyombongkan diri dia berani berkata: “Aku telah bekerja lebih keras daripada mereka semua, tetapi bukannya aku, melainkan kasih karunia Allah yang menyertai aku” (1 Korintus 15:10).

Bagi banyak orang pelayanan hanyalah rutinitas yang membosankan. Mereka ingin melepas pelayanan, tapi takut mendapat hukuman. Tetap melakukan pelayanan, tapi terus menjadi beban. Akibatnya pelayanan hanya dilakukan secara sembarangan. Yang penting tetap berjalan.

Solusi bagi situasi ini adalah Injil. Injil menjadi dorongan yang sangat besar karena Allah sudah rela mengejar dan membayar hutang dosa kita. Apa pun Dia terjang untuk mendapatkan kita. Sangat masuk akal apabila kita melayani dengan segenap hati dan tenaga untuk Tuhan yang sudah mau mati bagi kita.

AYAT HAFALAN

Tetapi aku tidak menghiraukan nyawaku sedikit pun, asal saja aku dapat mencapai garis akhir dan menyelesaikan pelayanan yang ditugaskan oleh Tuhan Yesus kepadaku untuk memberi kesaksian tentang Injil kasih karunia Allah - Kisah Para Rasul 20:24

PERENUNGAN PRIBADI DAN BERBAGI CERITA

1. Menurut Anda, apa saja hak yang dimiliki oleh seseorang yang melayani Tuhan sebagai aktivis gereja?

2. Pernahkah Anda melayani dan tidak mendapatkan hak tersebut? Jika pernah, bagaimana perasaan dan respons Anda saat itu? Jika belum pernah, bagaimana Anda akan merespons kondisi itu?

3. Bagaimana Injil menolong Anda untuk merespons situasi tersebut dengan lebih baik?