Sesi 7
GAYA HIDUP YANG BERPUSAT PADA INJIL (5)
INJIL SEBAGAI TELADAN
Segelintir orang hebat pernah hadir di dunia ini. Ada yang hebat karena keterampilan atau prestasinya, ada pula yang karena karakternya. Dalam banyak kasus, tiga hal ini tidak dapat dipisahkan. Orang yang prestasinya hebat adalah orang yang memiliki keterampilan dan karakter di atas rata-rata.
Di antara orang-orang yang terkenal karena karakter, kita mengenal sejumlah nama. Martin Luther King karena kegigihannya memperjuangkan hak-hak orang kulit hitam di Amerika. Ada Nelson Mandela yang mau berkurban demi menentang ketidakadilan di Afrika. Ada pula Bunda Teresa yang mau melayani orang-orang kusta di India. Beberapa atlet profesional terkenal karena kedisiplinan mereka (misalnya, Kobe Bryant, Christiano Ronaldo). Beberapa orang terkenal karena kebaikan mereka dalam menolong orang-orang miskin (misalnya, Bill & Melinda Gates, Warren Buffet).
Nama-nama di atas telah menginspirasi jutaan orang di dunia ini. Banyak orang mengidolakan dan meniru mereka. Menariknya, sebagian orang di atas ternyata jauh dari kata “sempurna.” Di balik kehebatan ada kisah-kisah kelam atau karakter lain yang memprihatinkan. Lagipula, dampak mereka juga terbatas, hanya terjadi pada bidang-bidang tertentu. Popularitas yang mendunia bukan berarti mengubahkan dunia. Terlepas dari semua keterbatasan ini, mereka tetap layak dijadikan teladan bagi banyak orang.
Jika orang-orang yang tidak sempurna ini saja pantas dijadikan model kehidupan, apalagi Yesus Kristus. Dia adalah satu-satunya manusia yang tidak pernah berdosa (Ibrani 4:15; 2 Korintus 5:21). Semua kelebihan yang dimiliki oleh tokoh-tokoh di atas dapat ditemukan dalam kehidupan dan pelayanan Yesus. Dia menentang ketidakadilan (Matius 23:23). Dia datang untuk melayani orang-orang yang kurang beruntung dan terabaikan (Lukas 4:18-21). Dia berani menyentuh orang kusta yang dikucilkan oleh masyarakat (Matius 8:1-4). Dia menuntaskan tugas berat dalam menebus orang berdosa (Yohanes 12:27-33; 13:1).
Masih banyak hal yang agung lainnya dalam diri Yesus. Kita tidak mungkin menuliskannya satu per satu. Dalam bab ini kita hanya akan berfokus pada teks-teks tertentu yang secara eksplisit memang memerintahkan kita untuk meneladani Yesus. Semua teks ini secara eksplisit juga berbicara tentang karya penebusan Kristus.
Pertama, Injil berbicara tentang kerendahhatian (Yohanes 13:1-17). Karakter ini tercermin dari kerelaan Yesus untuk membasuh kaki murid-murid-Nya. Tugas membasuh kaki seharusnya hanya dilakukan oleh para budak, dan dilakukan kepada orang yang lebih tinggi daripada mereka. Yesus menjalankan peran seorang budak, walaupun Dia tahu “bahwa Bapa-Nya telah menyerahkan segala sesuatu kepada-Nya” (13:3). Di akhir pembasuhan kaki, Dia memerintahkan murid-murid untuk mengikuti teladan-Nya (13:12-17).
Kedua, Injil berbicara tentang kepentingan orang lain (Filipi 2:1-8). Poin ini masih berkaitan dengan poin sebelumnya. Salah satu bentuk kerendahhatian adalah mendahulukan kepentingan orang lain karena menganggap orang lain lebih utama daripada diri kita sendiri (2:3-4). Dia mengosongkan diri-Nya dan tidak mempertahankan kesetaraan dengan Allah sebagai sesuatu yang harus dipegang senantiasa (2:6). Dia mau menjadi sama seperti manusia (2:7), bahkan mau menjadi hamba bagi mereka sampai mengurbankan diri-Nya di kayu salib (2:8). Itulah sebabnya kita diperintahkan untuk memiliki pikiran dan perasaan seperti Yesus (2:5).
Ketiga, Injil berbicara tentang ketabahan (1 Petrus 2:18-25). Penderitaan tidak pernah mudah untuk dihadapi, apalagi dipahami. Yang lebih sulit adalah penderitaan karena kebenaran. Walaupun menderita karena berbuat baik merupakan kasih karunia (2:19-20), rasa sakit yang ditimbulkan tetap tidak mudah untuk diterima. Kita tidak boleh membalas, dan hanya bisa menerima dengan tabah dan menantikan pembelaan dari Allah (2:22-23). Jika kita pernah berada dalam situasi seperti ini, kita tidak mengalaminya sendirian. Yesus sudah menyediakan teladan bagi kita (2:21).
Sadarkah kita bahwa keselamatan yang kita miliki merupakan hasil dari kerendahhatian Kristus, kerelaan-Nya untuk mengutamakan kepentingan kita, dan ketabahan-Nya dalam menghadapi proses penyaliban yang sangat sukar? Tidak berlebihan jika kita yang sudah diselamatkan juga mencerminkan nilai-nilai Injil tersebut. Kristus sudah menjadi model sempurna bagi kesalehan kita.
AYAT HAFALAN
Sebab untuk itulah kamu dipanggil, karena Kristus pun telah menderita untuk kamu dan telah meninggalkan teladan bagimu, supaya kamu mengikuti jejak-Nya. - 1 Petrus 2:21
PERENUNGAN PRIBADI DAN BERBAGI CERITA
1. Siapa orang yang paling menginspirasi Anda selama ini dalam hal karakter (selain Yesus Kristus)? Bagaimana Anda membandingkan orang itu dengan Yesus Kristus?
2. Di antara 3 (tiga) poin keteladanan yang sudah dijelaskan, poin mana yang paling sukar untuk dilakukan menurut Anda secara personal? Jelaskan.
3. Perubahan kecil dan konkret seperti apa yang Anda akan lakukan sehubungan dengan jawaban Anda di nomor sebelumnya?