Sesi 8
GAYA HIDUP YANG BERPUSAT PADA INJIL (6)
INJIL SEBAGAI KEKUATAN
Bab ini akan menjelaskan elemen terakhir dalam definisi tentang gaya hidup yang berpusat pada Injil, yaitu kekuatan. Injil bukan hanya menjadi cara pandang, dorongan, dan teladan, melainkan juga kekuatan. Apa saja yang kita lakukan bukan hanya dilihat dari perspektif Injil, didorong oleh Injil, atau berpatokan pada Injil, tetapi juga didasarkan pada kekuatan Injil yang mengubahkan.
Ironisnya, banyak orang sukar untuk bersandar pada kekuatan Injil. Mereka lebih merasa yakin dengan usaha-usaha manusia yang terlihat “nyata”. Banyak contohnya dalam banyak area. Bab ini hanya akan menyoroti dua saja: keselamatan dan pelayanan.
Dalam hal keselamatan, masih banyak orang yang meyakini bahwa kepastian keselamatan ditentukan oleh usaha manusia. Jika pada akhir hidup seseorang dia berbuat dosa, orang itu tidak akan diselamatkan. Dosanya menghalangi dia untuk masuk ke surga.
Mereka yang mengadopsi pandangan di atas berasumsi bahwa manusia bisa masuk surga karena tidak berdosa. Ini jelas salah besar. Jika cara keselamatan adalah seperti itu, tidak ada satu pun yang dapat masuk ke surga. Setiap detik manusia berdosa, karena tidak ada yang bisa menjadi sempurna seperti Bapa di surga (Matius 5:48). Sampai mati pun tuntutan ini tidak akan pernah dipenuhi.
Jika keselamatan ditentukan perbuatan baik di akhir hidup seseorang, kurban Kristus di kayu salib tidak sempurna. Kurban itu masih perlu ditambah dengan yang lain. Hal ini jelas bertabrakan dengan banyak teks Alkitab. Karya penebusan Kristus “sudah selesai” (Yohanes 19:30). Kita telah ditebus dengan darah Anak Domba yang sempurna (1 Petrus 1:18-19). Kita telah dibayar secara lunas (1 Korintus 6:20). Tidak ada penghukuman bagi siapa saja yang sudah di dalam Kristus (Roma 8:1).
Keselamatan yang berpusat pada Injil mengajarkan bahwa ketidaksetiaan manusia tidak mungkin bisa membatalkan kesetiaan Allah (Roma 3:3-4; 2 Timotius 2:13). Allah sudah memberikan kasih terbesar ketika kita berada dalam keadaan terburuk (Roma 8:6-8). Tidak ada yang dapat mengagetkan dan membatalkan kasih-Nya untuk mendapatkan kita. Tidak ada kebaikan kita yang bisa menambah kasih-Nya, demikian pula tidak ada dosa yang bisa mengurangi kasih-Nya. Kita sudah diselamatkan oleh anugerah, selalu ditopang oleh anugerah, dan akan disempurnakan oleh anugerah juga.
Kesalahan lain terjadi di area pelayanan. Pelayanan merupakan cara untuk menolong orang lain bertumbuh dengan benar. Sayangnya, dalam pelayanan banyak orang lebih mementingkan strategi dan metode tertentu daripada menekankan berita Injil. Ini merupakan kesalahan yang besar. Tidak heran, gereja akhirnya tidak mengalami perkembangan yang mengubahkan. Tidak ada kuasa Injil yang tampak secara nyata melalui pelayanan yang dilakukan.
Paulus sangat memahami kebenaran ini. Dia tidak mau mengandalkan strategi atau metode tertentu dalam pelayanan (1 Korintus 2:1-5). Yang dia percayai sepenuhnya adalah Allah dan Injil-Nya. Di tengah situasi apa pun, dia berani berkata: “karena aku tahu kepada siapa aku percaya dan aku yakin bahwa Dia berkuasa memeliharakan apa yang telah dipercayakan-Nya kepadaku hingga pada hari Tuhan” (2 Timotius 1:12). Bagi dia, Injil adalah kekuatan Allah yang menyelamatkan (Roma 1:16). Jika Injil mampu menyelamatkan, Injil juga pasti mampu untuk mengubahkan. Dengan penuh keyakinan Paulus menulis: “Sebab Injil yang kami beritakan bukan disampaikan kepada kamu dengan kata-kata saja, tetapi juga dengan kekuatan oleh Roh Kudus dan dengan suatu kepastian yang kokoh” (1 Tesalonika 1:5).
Bergantung pada kekuatan Injil tidak hanya perlu dilakukan dalam pemberitaan Injil, tapi juga dalam segala bentuk pelayanan. Selama Injil terus didiskusikan dan dimanifestasikan dalam pelayanan, kita meyakini bahwa orang yang mendengar dan melihat pasti akan diubahkan. Tidak mengandalkan Injil dalam pelayanan adalah kebodohan dan kelemahan. Mengapa demikian? Karena Injil adalah hikmat Allah dan kekuatan Allah (1 Korintus 1:23-24)!
Sebagai contoh jika dalam ibadah kita hanya mementingkan pada performa dan musikalitas daripada pemilihan lagu dan lirik lagu yang berpusat pada Injil. Contoh lainnya, kita lebih percaya pada perancangan ambience atau suasana dalam ibadah supaya bisa menyentuh hati jemaat. Segala strategi dan metode manusia hanya sarana, tetapi hanya Injil yang bisa membawa perubahan sampai ke akar-akarnya.
AYAT HAFALAN
Baik perkataanku maupun pemberitaanku tidak kusampaikan dengan kata-kata hikmat yang meyakinkan, tetapi dengan keyakinan akan kekuatan Roh, supaya iman kamu jangan bergantung pada hikmat manusia, tetapi pada kekuatan Allah. - 1 Korintus 2:4-5
PERENUNGAN PRIBADI DAN BERBAGI CERITA
1. Bagaimana pendapat Anda tentang seorang anak Tuhan yang frustasi dan dikuasai oleh rasa bersalah yang berlebihan karena menilai diri sering gagal mengasihi Tuhan?
2. Anda mendapati rekan pelayanan yang mudah tersinggung atau mudah putus asa jika menerima kritikan. Bagaimana Anda mendiagnosis akar persoalan dalam diri orang tersebut dalam perspektif Injil? Bagaimana Injil bisa menjadi kekuatan bagi orang tersebut untuk mengatasi persoalannya?
3. Apa saja yang sering menghalangi Anda untuk mengandalkan Injil, baik dalam keselamatan maupun pelayanan? Hal konkret apa yang bisa Anda lakukan untuk mengantisipasi atau mencari solusi bagi halangan tersebut?