Sesi 10
KEROHANIAN YANG BERTENTANGAN DENGAN INJIL
Berdasarkan penjelasan sebelumnya mengenai kerohanian yang berpusat pada Injil, kita semakin memahami bahwa ada banyak bentuk kerohanian dalam kekristenan yang bertentangan dengan Injil. Dari luar mungkin menunjukkan “perbuatan baik” tetapi tidak didasarkan pada Kabar Baik. Merasa diri lebih baik sehingga kurang sabar dan terlalu menuntut orang lain untuk berbuat baik.
Berikut ini adalah beberapa bentuk kerohanian yang harus diwaspadai. Pertama, legalisme. Legalisme merupakan sebuah paham yang mengajarkan bahwa perkenanan Allah dan kebenaran manusia di hadapan-Nya bisa diraih melalui perbuatan baik manusia, yaitu melalui ketaatan terhadap Hukum Taurat. Bagi mereka, kekristenan hanyalah sekumpulan perintah yang harus dilakukan dan sederetan larangan yang patut dijauhkan.
Paham seperti ini jelas sangat bertabrakan dengan konsep keselamatan sebagai anugerah dari Allah yang kita terima melalui iman. Secara tegas Paulus berkata: “Karena kami yakin, bahwa manusia dibenarkan karena iman, dan bukan karena ia melakukan hukum Taurat (Rm. 3:28)”. Dalam surat-suratnya Paulus tidak jemu-jemu mengingatkan bahwa keselamatan bukan hasil usaha atau pekerjaan manusia (Ef. 4:8-9). Keselamatan bukanlah jatah (setiap orang berhak mendapatkannya) atau upah (respons Allah terhadap hasil usaha manusia), melainkan anugerah (murni pemberian Allah secara cuma-cuma).
Legalisme akan menghasilkan kekristenan yang manipulatif dan intimidatif karena legalisme digerakkan oleh semangat “taat supaya mendapatkan berkat atau menghindari hukuman”. Manipulatif, karena ketaatan yang ditunjukkan hanya untuk mendapatkan keuntungan bagi diri sendiri dari Allah. Intimidatif, karena ketaatan didorong oleh rasa takut terhadap hukuman. Keduanya dilakukan bukan karena mengasihi Allah.
Kedua, moralisme. Moralisme merupakan sebuah paham yang mengajarkan bahwa yang paling penting adalah perbuatan baik, terlepas dari konsep maupun motivasinya. Di dalam kekristenan, moralisme mengambil bentuk nasihat-nasihat praktis yang diceraikan dari Injil. Penekanannya selalu pada apa yang harus dilakukan oleh manusia, bukan apa yang telah Kristus lakukan bagi manusia.
Nasihat-nasihat moralistis dalam kekristenan biasanya hanya didukung oleh ayat-ayat Alkitab yang terlalu umum sehingga tidak berbeda secara esensial dengan ajaran agama lain. Contohnya seorang yang sedang menderita hanya sekadar dihibur melalui konsep kedaulatan Allah yang mutlak, sedangkan konsep ini juga diajarkan di agama lain. Tidak ada yang unik secara Kristiani dalam pendekatan seperti ini. Seharusnya, kedaulatan Allah lebih dikaitkan dengan Injil. Contohnya, dari peristiwa yang paling buruk dalam sejarah (salib) Allah sanggup menghadirkan kebaikan yang paling indah (keselamatan kita), sehingga kita tetap memiliki pengharapan di tengah penderitaan apapun.
Ketiga, antinomianisme. Antinomianisme merupakan sebuah paham yang mengajarkan bahwa ketaatan terhadap hukum apapun tidak diperlukan karena kita sudah berada di bawah kasih karunia. Usaha manusia untuk hidup saleh dianggap sama sekali tidak berarti karena Kristus sudah menyelesaikan semuanya. Semangat yang diusung mirip dengan fitnahan yang ditujukan pada Paulus, yaitu berbuat semakin banyak dosa supaya mendapatkan semakin banyak kasih karunia (Roma 3:8).
Pandangan ini merupakan sebuah kesalahpahaman terhadap kemenangan dan kebebasan di dalam Kristus (1 Korintus 6:12, 10:23). Kristus bukan hanya membebaskan kita dari kuasa dan upah dosa, tetapi sekaligus memberikan kuasa untuk mengalahkan dosa. Kita dibebaskan dari perhambaan dosa supaya kita menghambakan diri pada kebenaran. Kita tetap berusaha melakukan perintah-perintah Allah tetapi dengan motivasi yang baru, yaitu karena kita mengasihi Allah yang sudah lebih dahulu mengasihi kita.
Kita perlu mewaspadai terus-menerus tiga bentuk kerohanian yang keliru di atas. Walaupun secara intelektual kita sudah mengetahui bahayanya, tetapi kita tidak selalu berhasil menjaga hati kita yang sudah tercemar oleh dosa. Kita menaati Kristus tanpa mengandalkan kekuatan dan kasih karunia Kristus.
AYAT HAFALAN
Sebab, oleh karena mereka tidak mengenal kebenaran Allah dan oleh karena mereka berusaha untuk mendirikan kebenaran mereka sendiri, maka mereka tidak takluk kepada kebenaran Allah. - Roma 10:3
PERENUNGAN PRIBADI DAN BERBAGI CERITA
1. Di antara 3 bentuk kerohanian yang salah di atas, manakah yang pernah (atau masih) menjadi konsep dan praktek hidup Anda?
2. Apakah yang menjadi penyebab Anda menganut bentuk kerohanian tersebut? Ceritakan.
3. Aspek Injil yang mana yang Anda perlu renungkan terus-menerus untuk mengubah bentuk kerohanian yang salah tadi?