Kembali Unduh PDF
Materi DG-1 (BePI)

11 Berhala dalam Hati

Sesi 11

BERHALA DALAM HATI

Titik akhir pertumbuhan rohani adalah keserupaan dengan Kristus. Hal ini hanya bisa diraih dengan kekuatan Injil yang murni. Di samping itu, kita juga perlu mewaspadai beberapa halangan dalam pertumbuhan rohani. Selain ketiga bentuk kerohanian yang bertentangan dengan Injil, kita juga perlu mewaspadai berhala-berhala di dalam hati kita. Berhala merupakan persoalan utama manusia sejak dahulu kala. Adam dan Hawa memakan buah yang dilarang karena ingin menjadi seperti Allah (Kejadian 3:4-6). Bangsa Israel berkali-kali jatuh pada penyembahan berhala (misalnya, Keluaran 32-33). Begitu berbahayanya penyembahan berhala sampai-sampai dua perintah pertama dalam Sepuluh Perintah Allah berkaitan dengan dosa ini (Keluaran 20:3-4).

Sampai sekarang berhala tetap menjadi persoalan utama manusia. Bentuknya memang tidak selalu berupa patung. Ada berbagai macam berhala. Tidak heran, Rasul Yohanes di akhir salah satu suratnya memberikan nasihat: “Anak-anakku, waspadalah terhadap segala berhala” (1 Yohanes 5:21). Sebelum nanti di sesi berikutnya kita membahas tentang berbagai wujud berhala, kita perlu memahami terlebih dahulu esensi penyembahan berhala. Ada beberapa cara yang saling berkaitan dan melengkapi untuk menjelaskan hal ini.

Pertama, penyembahan berhala adalah menjadikan segala sesuatu di luar Allah (atau Kristus) sebagai landasan untuk identitas, keberhargaan, kebahagiaan, dan rasa aman. Sebagai contoh, jika seseorang sering meletakkan keberhargaan dirinya di atas karier, prestasi, atau kekayaan, maka hal-hal itu sudah menjadi berhala. Jika sukacita seseorang masih dipengaruhi, apalagi ditentukan, oleh keadaan atau orang lain, dia sudah menjadikan keadaan dan orang lain sebagai berhala.

Landasan bagi identitas, keberhargaan, kebahagiaan dan rasa aman seharusnya terletak pada Allah saja. Di dalam Kristus kita diberikan berbagai identitas baru yang luar biasa, misalnya sebagai anak-anak Allah (Roma 8:14-16) dan umat kesayangan-Nya (1 Petrus 2:9). Keberhargaan diri kita juga ditentukan oleh kurban Kristus yang melebihi emas dan perak (1 Petrus 1:20-21). Keselamatan jiwa kita di dalam Kristus seharusnya menjadi alasan yang cukup untuk memiliki “sukacita yang mulia dan yang tidak terkatakan” (1 Petrus 1:8-9). Kita juga memiliki rasa aman sampai kapanpun karena Kristus sendiri sudah berjanji: “Aku memberikan hidup yang kekal kepada mereka dan mereka pasti tidak akan binasa sampai selama-lamanya dan seorangpun tidak akan merebut mereka dari tanganKu” (Yohanes 10:28).

Kedua, penyembahan berhala adalah mengubah apa yang baik menjadi apa yang tertinggi (Tim Keller). Di dalam kebaikan-Nya Allah telah memberikan segala sesuatu yang baik kepada kita (1 Timotius 4:4; Yakobus 1:17). Ironisnya, kita menjadikan pemberian (gifts) sebagai saingan atau pengganti Allah (the Giver). Teologi Kemakmuran adalah salah satu contohnya. Gereja justru menjadi kuil bagi para penyembahan Mamon.

Kita yang sudah memahami keberhargaan Allah di dalam Kristus seharusnya berani berkata: “Siapa gerangan ada padaku di sorga selain Engkau? Selain Engkau tidak ada yang kuingini di bumi. Sekalipun dagingku dan hatiku habis lenyap, gunung batuku dan bagianku tetaplah Allah selama-lamanya” (Mazmur 73:25-26). Bahkan ketika segala harta duniawi kita diambil, kita menyambutnya dengan sukacita karena kita menyadari bahwa kita “memiliki harta yang lebih baik dan yang lebih menetap sifatnya” (Ibrani 10:34). Kristus adalah milik kita, dan kita adalah milik-Nya. Itu seharusnya sudah cukup bagi kita.

Ketiga, penyembahan berhala adalah menolak untuk mengucap syukur kepada Allah. Yang ditekankan di sini adalah respons seseorang terhadap Allah. Sebagian orang mungkin mengakui keberadaan Allah (secara teologis), tetapi tidak memperlakukan Dia sebagai Allah dalam kehidupan sehari-hari (secara praktis). Salah satu contohnya adalah kegagalan bersyukur kepada Allah. Tentang para penyembah berhala, Paulus berkata: “sekalipun mereka mengenal Allah, mereka tidak memuliakan Dia sebagai Allah atau mengucap syukur kepada-Nya” (Roma 1:21).

Kegagalan untuk bersyukur merupakan tanda bahwa seseorang tidak puas dengan Allah. Mungkin dia merasa berkat Allah tidak cukup. Mungkin dia berpikir bahwa Allah kurang mampu mengatur hidupnya. Yang pasti, dia menganggap “memiliki Allah saja” tidak cukup bagi dia. Sehubungan dengan poin ini, kita perlu mengingat perkataan John Piper: “Allah paling dimuliakan di dalam kita pada saat kita paling dipuaskan di dalam Dia.”

Jika kita bergumul dengan esensi penyembahan berhala yang pertama, kita perlu dengan sengaja mengkalibrasi hati pada Injil Yesus Kristus. Siapa kita tidak ditentukan oleh apa yang kita miliki atau apa yang kita lakukan, melainkan apa yang Kristus lakukan bagi kita. Jika kita bergumul dengan esensi penyembahan berhala yang kedua, kita perlu mengingat bahwa semua berkat Tuhan akan lepas juga dari tangan kita. Pada akhirnya kita akan kehilangan semua yang kita miliki di bumi. Kita perlu melatih diri untuk semua yang kita miliki di dunia sebagai sampah di depan keindahan salib Kristus. Jika kita bergumul dengan esensi penyembahan berhala yang terakhir, kita perlu mengingat dan mensyukuri semua kebaikan Tuhan dalam hidup kita. Belajar menuliskan satu per satu pengalaman indah kita bersama dengan Tuhan merupakan sebuah disiplin rohani yang baik.

AYAT HAFALAN

Karena ingatlah ini baik-baik: tidak ada orang sundal, orang cemar atau orang serakah, artinya penyembah berhala, yang mendapat bagian di dalam Kerajaan Kristus dan Allah. - Efesus 5:5.

PERENUNGAN PRIBADI DAN BERBAGI CERITA

1. Motivasi di balik ibadah kepada dewa-dewa adalah mengharapkan yang baik sekaligus menghindari yang buruk dari mereka. Menurut Anda, apa saja kemiripan model penyembahan berhala kuno ini dengan berbagai penyembahan berhala sekarang ini?

2. Di antara 3 (tiga) poin di atas, poin mana yang selama ini menjadi pergumulan utama Anda? Ceritakan bentuk konkret dari pergumulan tersebut.

3. Apa yang biasanya menjadi penghalang utama bagi Anda untuk melepaskan berhala utama Anda?