Sesi 7
MENANG ATAS BERHALA PENERIMAAN
Bagi sebagian orang, penerimaan dari orang lain merupakan segala-galanya. Wujud penerimaan yang dicari cukup beragam: pujian, pertemanan, persetujuan, kedekatan, penghargaan, dan sebagainya. Cara mencari penerimaan juga bisa beragam: menolong orang lain, bertingkah menyenangkan, melakukan ekstra untuk orang lain, dan sebagainya.
Pada dirinya sendiri penerimaan dari orang lain bukan sesuatu yang negatif. Manusia diciptakan sebagai gambar Allah (Kej. 1:26-27) yang sosial (Kej. 2:18). Setiap orang adalah bagian dari kehidupan orang lain (Kej. 2:23). Setiap orang membutuhkan sesamanya (1Kor. 11:12). Dalam konteks inilah penerimaan telah menjadi elemen krusial dalam relasi sosial.
Alkitab bahkan memberi beberapa contoh konkrit bawa disukai atau diterima banyak orang pada dirinya sendiri tidak salah. Sejak kecil Yesus disukai manusia dan Allah (Luk. 2:52). Di depan banyak orang pada waktu baptisan Bapa juga menyatakan perkenanan-Nya atas Yesus (Luk. 3:21-22). Di akhir jaman orang-orang tertentu akan mendapatkan pujian dari Allah (1Kor. 4:5). Jadi, sekali lagi, memperoleh penerimaan, bahkan pujian, dari orang lain pada dirinya sendiri tidak salah.
Jadi, bagaimana kita membedakan penjelasan di atas dengan berhala penerimaan? Berhala penerimaan dapat dipahami sebagai upaya yang intensional untuk menyenangkan semua orang dengan tujuan untuk diterima dan merasa utuh dengan penerimaan tersebut. Penerimaan dari orang lain, apapun bentuknya, dijadikan landasan identitas, keberhargaan, kebahagiaan, dan rasa aman. Ketika hal ini terjadi, kita dapat melihat kekuatan dosa yang paling berbahaya: melakukan perbuatan baik dengan tujuan yang berdosa.
Apakah hal ini berarti perbuatan baik kita tidak boleh dilihat atau disikapi secara positif oleh orang lain? Tidak juga. Alkitab memberikan beberapa dukungan. Gaya hidup jemaat mula-mula yang penuh kasih menyebabkan mereka disukai oleh semua orang (Kis. 2:47). Sebagai terang dunia, kita ditantang untuk berbuat baik di depan semua orang supaya mereka memuliakan Bapa (Mat. 5:16). Intinya di sini adalah konsekuensi, bukan demonstrasi. Maksudnya, kita tidak memamerkan perbuatan baik. Namun, orang lain akhirnya dapat melihat perbuatan tersebut. Ini bukan mencari penerimaan. Ini murni menjadi teladan.
Bagaimana mengikis berhala penerimaan dalam diri kita? Kita akan belajar tujuh langkah penting.
Pertama, mengamati gejala untuk mendiagnosis akar masalah. Wujud berhala penerimaan sangat beragam, misalnya selalu tampil ceria untuk menyenangkan orang lain atau berkurban secara ekstra bagi orang lain supaya dicintai. Akar dari berhala penerimaan bisa berupa penolakan (dari orang lain) maupun ketidakpuasan (terhadap diri sendiri). Rasa minder yang muncul dari dua hal ini bisa berubah menjadi gejala yang menakutkan, misalnya Gideon menjadi sosok yang kejam (Hak. 8:1-21) dan gila hormat (Hak. 8:22-31) atau Saul yang akhirnya menjadi penjilat orang banyak (people-pleaser, 1Sam. 15:21, 24, 30). Tanpa mengetahui penyebab utama solusi apapun hanya berupa tips praktis belaka yang sekadar mengobati gejalanya.
Kedua, merengkuh keutuhan diri dalam Kristus. Setiap kita memang jauh lebih hina daripada yang kita kira, tetapi Allah memberikan diri-Nya bagi kita (Rm. 8:31 “If God is for us”). Dia tidak menyayangkan Anak-Nya bagi kita (Rm. 8:32). Kristus rela membayar harga yang sempurna bagi kita (1Pet. 1:18-19). Penerimaan terhadap diri sendiri sangat penting karena kebebasan dari godaan “diterima oleh orang lain” dimulai dari penerimaan diri sendiri di dalam Kristus.
Ketiga, mengingat status kita sebagai hamba Kristus. Larangan Alkitab untuk menyenangkan orang lain beberapa kali dihubungkan dengan status sebagai hamba Allah. Paulus menasihati para hamba untuk menaati tuan mereka “sebagai hamba-hamba Kristus yang dengan segenap hati melakukan kehendak Allah” (Ef. 6:6; Kol. 3:22). Sebagai hamba Kristus Paulus tidak mau mencoba berkenan kepada manusia (Gal. 1:10). Melalui teks-teks ini kita belajar bahwa penebusan bukan hanya tentang kebebasan tetapi juga perubahan objek pelayanan (baca:tuan).
Keempat, menguji tujuan dari setiap tindakan. Menyenangkan sebanyak mungkin orang belum tentu keliru, asalkan tujuannya bukan untuk diri sendiri. Contoh yang jelas adalah Paulus. Dia berusaha menyenangkan dan menyesuiakan diri dengan semua orang, tetapi tujuannya untuk Injil, yaitu supaya dia dapat memenangkan sebanyak mungkin orang (1Kor. 9:19-23). Perbuatan baik menjadi tidak berdosa ketika ditujukan untuk kemuliaan Bapa.
Kelima, menyadari dampaknya yang buruk. Pada hakikatnya berhala penerimaan merupakan sebuah penghinaan. Semua pihak ditempatkan sebagai objek manipulasi. Yang mencari penerimaan sedang melakukan transaksi supaya orang lain melakukan sesuatu bagi dia. Dalam kasus seperti ini, yang memberikan penerimaan sebenarnya tidak sungguh-sungguh menerima diri orang tersebut. Yang dihargai hanyalah kontribusi orang tersebut. Tidak mengehrankan jika memberi makan berhala penerimaan adalah tindakan yang merendahkan dan melelahkan.
Keenam, belajar untuk berkata “tidak”. Tidak selalu mengiyakan keinginan dan pandangan orang merupakan salah satu wujud kasih pada semua orang yang seringkali diabaikan. Teguran yang nyata lebih baik daripada kasih yang tersembunyi, apalagi ciuman yang munafik (Ams. 27:5-6). Sebaliknya, berusaha untuk menyenangkan semua orang seringkali justru berpotensi untuk melukai banyak orang.
Ketujuh, menyiapkan diri untuk menghadapi penolakan. Bagi mereka yang berpaut pada kebenaran, penolakan seringkali merupakan sebuah keniscayaan (Yoh. 15:18-20). Kita tidak boleh terkejut dengan penolakan, karena Kristus juga sebagai Mesias Yang Tertolak (Yes. 53:2-3). Justru ketika kita mampu menyenangkan semua orang, kita patut mewaspadai hal ini (Luk. 6:26). Kita tidak mungkin mampu menyenangkan semua orang tanpa mengompromikan kebenaran. Penghiburan bagi kita yang tertolak adalah ini: kita bukan hanya ditolak bersama Kristus, tetapi kita tidak mungkin ditolak lebih daripada Kristus.
AYAT HAFALAN
Jadi bagaimana sekarang: adakah kucari kesukaan manusia atau kesukaan Allah? Adakah kucoba berkenan kepada manusia? Sekiranya aku masih mau mencoba berkenan kepada manusia, maka aku bukanlah hamba Kristus - Galatia 1:10
PERENUNGAN PRIBADI DAN BERBAGI CERITA
1. Pada situasi seperti apa Anda biasanya merasa paling tergoda untuk memberi makan berhala penerimaan?
2. Apa wujud konkrit berhala penerimaan yang selama ini Anda tunjukkan? Ceritakan!
3. Bagaimana Anda selama ini menyikapi penolakan? Apakah sikap tersebut sesuai dengan nilai-nilai Injil?