Sesi 6
KEMENANGAN ATAS DOSA
Alkitab mengajarkan dengan cukup jelas bahwa kuasa dosa dalam diri kita sudah dikalahkan melalui karya penebusan Kristus yang beranugerah. Kita tidak berada di bawah kuasa dosa (Rm. 6:1-14), melainkan di bawah kasih karunia (Rm. 6:15-23). Sayangnya, kehidupan sebagian orang Kristen terlihat tidak mencerminkan kondisi ini. Mereka tampak tidak berkemenangan atas dosa.
Salah satu penyebabnya adalah diagnosis dan solusi yang salah terhadap dosa. Yang ditangani hanya gejalanya. Sebagai contoh, banyak orang Kristen menggunakan terapi moralistik yang pragmatis. Maksudnya, mereka mengandalkan nasihat-nasihat moral dan kalimat-kalimat motivasional yang terlalu umum, sehingga tidak menunjukkan keunikan kekristenan dibandingkan keyakinan yang lain. Solusi yang ditawarkan cenderung ke arah tips praktis. Sebagian yang lain menggunakan terapi intimidatif – manipulatif. Maksudnya, mereka mencoba mengalahkan godaan dosa dengan cara mempertimbangkan konsekuensi negatifnya (intimidatif) maupun hasil positif yang akan diperoleh (manipulatif).
Semua usaha di atas tidak akan memberikan kemenangan atas dosa. Alkitab secara eksplisit dan konsisten mengajarkan bahwa akar dari segala persoalan adalah persoalan hati. Dari hati muncul segala yang jahat (Mat. 15:19). Daud memahami kebenaran ini. Setelah perzinahannya dengan Batsyeba, Daud berdoa “Jadikanlah hatiku tahir, ya Allah, dan perbaharuilah batinku dengan roh yang teguh!” (Mzm. 51:12). Jika hati adalah persoalannya, apa yang menjadi solusinya? Bagaimana kita bisa menang melawan dosa?
Pertama, mengamini kesempurnaan penebusan Kristus. Darah Kristus bukan hanya menyucikan kita dari dosa-dosa (1Yoh. 1:7, 9), tetapi juga dari sumber dosa, yaitu hati kita (Kis. 15:9; Ibr. 9:14). Walau pergulatan internal melawan dosa dalam diri kita tetap ada dan kadangkala membuat kita putus asa (Rm. 7:24 “Aku, manusia celaka! Siapakah yang akan melepaskan aku dari tubuh maut ini?”), pada akhirnya kita diingatkan untuk berseru: “Syukur kepada Allah! oleh Yesus Kristus, Tuhan kita” (Rm. 7:25). Kristus sudah memenangkan peperangan, kita hanya meneruskan sisa pertempuran.
Kedua, menguatkan kasih kita kepada TUHAN. Fondasi dari ketaatan yang benar adalah kasih kepada Allah dan sesama (Mat. 22:36-41). Pertanyaannya, bagaimana kita bisa mengasihi Allah (dan sesama)? Yaitu kalau kita menyadari bahwa Allah lebih dulu mengasihi kita (1Yoh. 4:10). Semakin kita memahami dan mengalami kasih-Nya, semakin besar kasih kita kepada-Nya. Itulah sebabnya Sepuluh Perintah Allah kepada bangsa Israel (Kel. 20:3-17) didahului dengan kebaikan Allah kepada mereka (20:2 “Akulah TUHAN, Allahmu, yang membawa engkau keluar dari tanah Mesir, dari tempat perbudakan”). Kebaikan (Allah) mendahului ketaatan (kita). Kasih Kristus menggerakkan kasih kita.
Injil Kristus ibarat bensin pada kendaraan bermotor. Sekalipun kita memiliki mobil yang bagus, bekal perjalanan yang cukup, tujuan yang pasti, dan peta yang detail, kita tidak mungkin mencapai destinasi tanpa bensin. Tidak ada kekuatan untuk sampai ke sana. Begitu pula dengan upaya kita untuk menang atas dosa. Rahasia mengalahkan dosa bukan dengan melawannya, melainkan dengan mengasihi yang lain (baca: Kristus) lebih daripada dosa. Untuk itu kita perlu terus-menerus memahami dan mengalami kasih-Nya dalam hidup kita.
Ketiga, mengembangkan kebiasaan baru yang sesuai dengan Injil. Sadarkah kita bahwa ada keterkaitan antara kondisi hati dan rutinitas dalam hidup kita? Kebiasaan-kebiasaan kita mencerminkan apa yang kita sembah atau paling cintai. Pada akhirnya kita menjadi seperti apa yang kita cintai. Ini yang disebut sebagai “kekuatan spiritual dari kebiasaan” (James K. A. Smith).
Kebiasaan-kebiasaan tersebut merupakan sebuah “ibadah” karena digerakkan oleh devosi kita kepada yang kita sembah. Jika semua kebiasaan kita ditujukan untuk kemuliaan Allah dan digerakkan oleh kasih kita kepada Dia, kebiasaan-kebiasaan itu menjadi bentuk ibadah konkrit kita. Sebaliknya, semua kebiasaan lain yang bukan untuk kemuliaan-Nya atau digerakkan oleh kasih-Nya akan menjadi kontra-ibadah atau, lebih tepatnya, penyembahan berhala dalam hidup kita. Semua ini perlu dikaji ulang dan diatur ulang.
Dengan demikian kita perlu mendisiplin diri dengan kebiasaan-kebiasaan baru yang konstruktif, baik kebiasaan berpikir, merasa, maupun bertindak. Kita perlu melakukan “kontra-berhala.” Sebagai contoh, yang bergumul dengan berhala harta perlu membiasakan diri untuk memberi bagi pelayanan atau orang lain. Yang bergumul dengan berhala kenyamanan perlu untuk merengkuh tantangan baru. Pendeknya, dosa bersifat natural, sehingga perlu dikontrol secara intensional. Dengan tidak melakukan apa-apa kita sebenarnya sedang memberi kemenangan pada dosa.
AYAT HAFALAN
Betapa lebihnya darah Kristus, yang oleh Roh yang kekal telah mempersembahkan diri-Nya sendiri kepada Allah sebagai persembahan yang tak bercacat, akan menyucikan hati nurani kita dari perbuatan-perbuatan yang sia-sia, supaya kita dapat beribadah kepada Allah yang hidup – Ibrani 9:14.
PERENUNGAN PRIBADI DAN BERBAGI CERITA
1. Apakah Anda pernah (atau sedang) merasa putus asa dengan hasil pergumulan Anda dalam mengatasi dosa tertentu? Apa penyebab kegagalannya? Ceritakan!
2. Antara 0 -10, sejauh mana kasih Allah di dalam Kristus telah menjadi penggerak bagi setiap pemikiran, perasaan, keinginan, keputusan, atau tindakan Anda? Jelaskan!
3. Pilihlah salah satu dosa yang Anda sedang gumulkan, lalu pikirkan dua kebiasaan baru yang relevan yang Anda akan lakukan selama seminggu ke depan. Ceritakan proses atau hasilnya dalam pertemuan mendatang!