Kembali Unduh PDF
Materi DG-2 (BOI)

05 Perubahan Tujuan Hidup

Sesi 5

TRANSFORMASI TUJUAN HIDUP

Seperti yang sudah dibahas di sesi-sesi sebelumnya, pertobatan sejati bukan sekadar perubahan tingkah laku. Pertobatan sejati dimulai dari perubahan radikal pada hati kita. Objek kasih kita berubah. Demi Kristus yang lebih dahulu mencintai kita sedemikian rupa, kita berani melepaskan apa yang kita anggap paling berharga.

Transformasi radikal ini menggerakkan semua perubahan yang lain dalam diri kita. Salah satunya adalah tujuan hidup. Pertobatan di dalam Kristus memberi arah baru bagi kehidupan yang dipersembahkan kepada Kristus (Rm. 6:11 “kamu telah mati bagi dosa, tetapi kamu hidup bagi Allah dalam Kristus Yesus”). Mereka yang sudah ditebus oleh Kristus tidak lagi hidup untuk diri mereka sendiri, tetapi “untuk Dia, yang telah mati dan telah dibangkitkan untuk mereka” (2Kor. 5:15).

Kebenaran ini seringkali dilupakan oleh orang Kristen. Mereka menggunakan Allah untuk mencapai tujuan hidup mereka, bukan melibatkan hidup mereka untuk menggenapi tujuan Allah. Mereka meminta Allah untuk menyertai mereka (mencapai tujuan mereka), bukan memberi diri mereka untuk dipimpin oleh Allah (bagi kemuliaan-Nya). Jika ini yang terjadi, Allah telah diperlakukan sebagai alat, bukan tujuan ultimat. Bagaimana kita dapat mengarahkan tujuan hidup pada Allah?

Pertama, menyadari bahwa tugas kita hanya menemukan, bukan menciptakan. Sebagai Pencipta, Allah berhak menentukan untuk apa kita ada di dunia (Kej. 1:26). Ibarat seorang penjunan, Allah berdaulat menentukan kita menjadi bejana seperti apa (Rm. 9:20-21). Tugas kita adalah menemukan tujuan tersebut melalui pergumulan yang intensional dan intensif. Jika Allah adalah penentu tujuan hidup kita, orang Kristen seharusnya tidak memiliki cita-cita. Kita hanya menemukan (rencana Allah) dan mengoptimalkan (talenta dari Allah).

Kedua, mengamini dan menerima tujuan umum penciptaan maupun keselamatan. Tujuan Allah menciptakan dan menyelamatkan kita adalah supaya kita memuliakan Dia (Yes. 43:7 “semua orang yang disebutkan dengan nama-Ku yang Kuciptakan untuk kemuliaan-Ku, yang Kubentuk dan yang juga Kujadikan!”). Kita adalah maha karya Allah di dalam Kristus “untuk melakukan pekerjaan baik, yang dipersiapkan Allah sebelumnya. Ia mau, supaya kita hidup di dalamnya” (Ef. 2:10). Orientasi hidup kita bukan pada apa yang dapat binasa, melainkan pada apa yang berdampak kekal (Yoh. 6:27). Kita mendahulukan kepentingan kerajaan Allah lebih daripada kepentingan kita sendiri (Mat. 6:33).

Jika kita belum siap menerima panggilan Allah secara umum seperti di atas, kita juga akan mengalami kesulitan untuk menggumulkan tujuan hidup kita yang spesifik. Jika kita tidak mau memberi diri kepada Allah, tidak mungkin kita mau memberikan pekerjaan, karir, hobi, prestasi atau yang lainnya untuk Allah.

Ketiga, menggumulkan tujuan hidup kita yang spesifik. Kita bukan produk massal dengan satu tujuan. Allah memiliki maksud yang spesifik untuk setiap kita. Itulah sebabnya tidak semua diberi jabatan yang sama (Ef. 4:11) atau karunia yang sama (Rm. 12:3-8; 1Kor. 12:7-11). Masing-masing diciptakan dan diselamatkan untuk tujuan tertentu.

Menemukan tujuan spesifik ini membutuhkan proses yang panjang dan, seringkali, membingungkan. Sambil kita berdoa secara intensif untuk mengasah kepekaan kita terhadap pimpinan Allah, kita perlu mempertimbangkan beberapa hal sebagai petunjuk: (a) hasrat kita yang besar atau konsisten; (b) kelebihan atau talenta yang kita miliki; (c) beban yang khusus terhadap suatu keadaan atau kebutuhan; (d) konfirmasi orang-orang di sekitar kita, terutama mereka yang mengenal kita dan lebih rohani daripada kita; (e) evaluasi yang jujur setelah kita mencoba.

Keempat, mengadopsi nilai-nilai hidup yang sesuai. Tujuan hidup mempengaruhi nilai hidup. Setelah tujuan hidup Paulus diubahkan, yaitu untuk menjadi serupa dengan Kristus melalui persekutuan di dalam kematian dan kebangkitan-Nya (Flp. 3:10-11), nilai-nilai hidupnya juga berubah. Apa yang dulu dianggap sebagai kebanggaan sekarang dianggap sampah. Begitu pula apa yang dulu dinilai sebagai keuntungan sekarang justru menjadi kerugian (Flp. 3:7-8). Segala sesuatu yang menghalangi pengenalan dan persekutuan dengan Kristus merupakan sampah dan kerugian.

Jika kita mengetahui ke mana kita pergi (tujuan), kita dengan mudah memilih dan memilah apa yang benar-benar diperlukan selama perjalanan. Barang-barang yang tidak berguna (walau mahal atau berharga) akan dianggap sebagai beban yang tidak diperlukan, sehingga perlu ditinggal. Hidup menjadi lebih sederhana jika kita memahami untuk apa kita ada di dunia dan apa yang terpenting dalam hidup kita.

AYAT HAFALAN

Aku menjawab: Jika engkau makan atau jika engkau minum, atau jika engkau melakukan sesuatu yang lain, lakukanlah semuanya itu untuk kemuliaan Allah. – 1 Korintus 10:31

PERENUNGAN PRIBADI DAN BERBAGI CERITA

1. Bagaimana Anda selama ini mendefinisikan sebuah kehidupan yang berhasil atau berharga? Bagaimana Injil mengubahkan konsep tersebut?

2. Apa kendala terbesar Anda untuk melakukan segala sesuatu, bahkan hal-hal yang sepele, demi kemuliaan Allah? Bagaimana Injil menolong Anda untuk melakukannya?

3. Dalam seminggu ke depan, coba tuliskan tujuan hidup Anda yang spesifik (sesuai hasil pergumulan Anda selama ini dengan Allah), lalu mintalah pendapat tentang hal itu dari orang-orang yang mengenal Anda dengan baik, terutama yang lebih dewasa secara spiritual. Apakah mereka memberikan konfirmasi ke arah yang sama? Ceritakan dalam pertemuan kelompok berikutnya!