Kembali Unduh PDF
Materi DG-2 (BOI)

04 Transformasi Hati

Sesi 4

TRANSFORMASI HATI

Kita sudah belajar bahwa salah satu tanda pertobatan sejati adalah perubahan yang holistik. Seluruh diri kita (baik pikiran, perasaan, kehendak, keputusan, tindakan, dan sebagainya) harus terus-menerus dikuduskan seutuhnya. Seluruh proses ini dimulai dari transformasi hati, karena akar dari segala persoalan adalah persoalan hati (Mat. 15:19).

Tanpa transformasi radikal yang ada hanyalah perubahan superfisial. Yang diselesaikan hanya gejala, bukan akar persoalan yang sebenarnya. Alkitab memberikan banyak contoh bagaimana seseorang terlihat “bertobat” tetapi tanpa transformasi hati. Ada yang mengenakan pakaian kabung – bahkan sampai mengoyakkannya – tetapi hatinya tidak sungguh-sungguh berbalik kepada TUHAN (Yl. 2:12-13). Ada yang tampak sangat beribadah kepada Allah dan peduli pada rumah Allah, tetapi ternyata hatinya jauh dari Allah (Mat. 15:8). Ada yang terlihat sangat murah hati dan mau berbagi tetapi hatinya dikuasai oleh Iblis (Kis. 5:3-4). Deretan contoh ini tentu saja masih bisa diperpanjang.

Menguji hati jelas tidak mudah. Hati manusia begitu licik (Yer. 17:9). Sebuah perbuatan yang “baik” bisa dilakukan hanya untuk menutupi motif hati yang jahat. Kita memiliki maksud jahat melalui perbuatan yang baik.

Walau Alkitab mengajarkan bahwa hanya TUHAN yang bisa menguji hati sepenuhnya (1Raj. 8:39; Ams. 16:2; 21:2), hal ini bukan berarti kita tidak dapat menguji pertobatan hati kita sendiri. Yang diperlukan adalah kebiasaan untuk berkontemplasi sendirian dengan Tuhan dan menunjukkan kerelaan serta kejujuran untuk diuji melalui firman Tuhan. Salah satu perenungan penting adalah objek kasih kita yang terdalam. Apa yang paling kita kejar dalam hidup ini? Sebaliknya, apa yang paling kita susah lepaskan?

Untuk menjerangkan hal ini, kita akan membandingkan dua tokoh dalam Alkitab: Simon (Kis. 8:5-24) dan Zakheus (Luk. 19:1-10). Pertobatan Simon sekilas mungkin terlihat lebih spektakuler karena dia meninggalkan pekerjaan lamanya sebagai tukang sihir, lalu mengikuti Filipus ke mana saja. Dia tidak iri hati melihat orang lain tampak lebih hebat daripada dirinya. Dia tidak malu dengan penduduk Samaria yang selama ini mengagumi dan mengikuti dia (Kis. 8:9-11).

Pertobatan Zakheus sekilas terlihat biasa-biasa saja. Tidak ada catatan Alkitab yang menunjukkan bahwa dia meninggalkan pekerjaannya sebagai pemungut cukai. Dia tidak menjual seluruh miliknya lalu mengikuti Yesus.

Pembacaan yang lebih teliti ternyata menunjukkan kebalikannya. Pertobatan Zakheus lebih radikal daripada pertobatan Simon. Terjadi perubahan objek kasih yang terdalam pada diri Zakheus.

Pembacaan teks yang teliti menunjukkan bahwa Simon sebenarnya tidak pernah mengalami pertobatan hati. Yang paling dia sukai dari dulu tetap sama, yaitu hal-hal yang ajaib. Itulah sebabnya dia menjadi tukang sihir. Dengan keajaiban ini dia ingin terlihat hebat (Kis. 8:9-11). Pada waktu melihat berbagai mujizat yang dilakukan oleh Filipus, dia berganti haluan dan mulai mengikuti Filipus ke mana saja (Kis. 8:12-13). Namun, hatinya tidak berubah. Dia mengikuti Filipus hanya gara-gara melihat tanda dan mujizat yang hebat.

Hati yang bengkok ini terbongkar pada saat Petrus dan Yohanes menumpangkan tangan atas orang-orang Samaria dan mereka semua dipenuhi oleh Roh Kudus (Kis. 8:16-17). Walau tidak ada petunjuk eksplisit dari teks, tidak salah jika kita menafsirkan bahwa kepenuhan Roh Kudus ini disertai dengan tanda-tanda ajaib (bdk. Kis. 2:1-12). Simon lantas menawarkan uang untuk membeli kuasa tersebut (Kis. 8:18-19). Petrus dengan tepat mendiagnosis akar persoalan dalam diri Simon, yaitu hatinya (Kis. 8:21-23). Hatinya tidak lurus di hadapan Allah (Kis. 8:21). Niat hatinya jahat (Kis. 8:22). Hatinya telah menjadi “seperti empedu yang pahit dan terjerat dalam kejahatan” (Kis. 8:23).

Tidak demikian dengan Zakheus. Dia dahulu sangat mencintai harta. Itulah sebabnya dia mau menjadi kepala pemungut cukai (Luk. 19:2). Sebagai pemungut cukai dia tentu saja dibenci oleh orang banyak, tetapi dia tampak tidak peduli. Yang paling penting bagi dia adalah harta. Dia lebih memilih kekayaan daripada penerimaan. Dia tidak peduli jika untuk menjadi kaya raya dia harus dibenci oleh banyak orang.

Pada waktu dia berjumpa dengan Yesus dan bertobat, dia mengalami transformasi hati. Tanpa diperintah atau ditantang oleh Yesus (bdk. Luk. 19:18-27), Zakheus langsung menunjukkan buah pertobatan yang semuanya berkaitan dengan harta (Luk. 19:8). Dia memberikan separuh dari seluruh miliknya untuk orang miskin. Dia memberikan ganti rugi yang maksimal jika ada orang lain yang pernah dia rugikan.

Catatan Alkitab ini sangat menarik. Zakheus tentu saja memiliki dosa-dosa lain. Wujud pertobatannya bisa apa saja. Namun, dia sendiri memilih untuk membagikan hartanya. Dengan kata lain, dia telah melepaskan apa yang paling berharga dalam hidupnya.

Dari perbandingan antara Simon dan Zakheus kita belajar bahwa transformasi hati seseorang dapat dilihat dari perubahan objek cinta dan keberhargaan. Apa yang paling dicintai sekarang adalah Kristus yang sudah mencari dan menyelamatkan dia (Luk. 19:10). Kristus yang sudah menemukan dia sekarang menjadi hartanya yang paling berharga. Harta yang lama tidak lagi terlihat berharga.

AYAT HAFALAN

Siapa gerangan ada padaku di sorga selain Engkau? Selain Engkau tidak ada yang kuingini di bumi. Sekalipun dagingku dan hatiku habis lenyap, gunung batuku dan bagianku tetaplah Allah selama-lamanya – Mazmur 73:25-26.

PERENUNGAN PRIBADI DAN BERBAGI CERITA

1. Sebelum Anda menerima Yesus sebagai Juruselamat, apakah yang paling berharga dalam hidup Anda? Mengapa hal itu tampak begitu berharga bagi Anda?

2. Apakah hal tersebut berubah secara signifikan setelah Anda bertobat? Jika tidak, mengapa? Jika iya, bagaimana prosesnya?

3. Pikirkanlah sebuah langkah konkrit untuk melepaskan apa yang selama ini Anda anggap berarti, lalu lakukan itu dalam seminggu ke depan.