Kembali Unduh PDF
Materi DG-2 (BOI)

03 Keseriusan Dosa

Sesi 3

KESERIUSAN DOSA

Dalam sesi sebelumnya kita sudah membahas bahwa salah satu tanda pertobatan sejati adalah menyadari keseriusan dosa. Kesadaran ini merupakan hal yang sangat penting. Semakin kita memahami betapa besarnya dosa-dosa kita, semakin kita memahami betapa besarnya kasih karunia Allah yang menutupi dosa-dosa kita.

Sayangnya, sebagian orang Kristen belum sampai di tahap sini. Mereka merasa diri mereka tidak seberapa berdosa. Situasi ini seringkali terjadi pada tiga jenis orang: (a) yang suka membenarkan diri, bahkan, tidak jarang, dengan menggunakan alasan teologis tertentu; (b) yang tidak pernah melakukan kejahatan atau kenakalan serius; (c) yang terjebak pada legalisme, sehingga merasa diri cukup taat terhadap aturan-aturan Alkitab. Orang-orang seperti ini mungkin meminta ampun kepada Tuhan, tetapi tanpa kesadaran yang mendalam tentang keseriusan dosa mereka.

Bagaimana kita dapat semakin memahami keseriusan dosa kita sehingga pada akhirnya bisa berkata: “di antara orang berdosa akulah yang paling berdosa” (1Tim. 1:15-16)?

Pertama, merenungkan keseriusan penderitaan yang ditanggung oleh Kristus. Jika dosa tidak seserius seperti yang banyak orang kira, Allah tidak perlu mengutus Anak-Nya untuk menyelesaikannya. Untuk membereskan dosa-dosa ini, Kristus harus “menanggung bantahan (lit. “perlawanan”) yang sehebat itu terhadap diri-Nya dari pihak orang-orang berdosa” (Ibr. 12:3). Yesaya berkata tentang Mesias: “Ia dihina dan dihindari orang, seorang yang penuh kesengsaraan dan yang biasa menderita kesakitan; ia sangat dihina, sehingga orang menutup mukanya terhadap dia dan bagi kitapun dia tidak masuk hitungan” (Yes. 53:3). Puncaknya adalah penderitaan rohani yang hebat ketika di atas kayu salib Kristus ditinggalkan oleh Bapa-Nya (Mat. 27:46).

Kedua, memaknai keseriusan penderitaan kita dengan benar. Pernahkah kita mengalami atau melihat penderitaan yang begitu hebat? Apakah kita menyadari bahwa semua itu tidak akan ada dalam dunia ini seandainya manusia tidak pernah jatuh ke dalam dosa?

Dari kejatuhan ke dalam dosa muncul berbagai penderitaan dan kejahatan di dunia: keterasingan dari Allah, perselisihan antar sesama manusia, kehinaan, kesakitan, kesusahan, dan kematian (Kej. 3).

Bukan hanya dari kejatuhan awal manusia ke dalam dosa, beberapa penderitaan yang luar biasa bahkan muncul langsung dari dosa seseorang terhadap sesamanya. Perselingkuhan menyebabkan berbagai perasaan buruk dalam diri pasangan: rasa sakit, malu, tidak berharga, dan sebagainya. Orang tua yang terlalu ambisius dalam pekerjaan membuat anak-anak merasa diabaikan dan kurang berharga. Jadi, semakin kita melihat atau merasakan dampak dosa, semakin kita memahami betapa seriusnya dosa.

Ketiga, memahami kekudusan Allah yang sempurna. Ketika Musa ingin melihat kemuliaan Allah secara langsung, TUHAN menjawab: “Engkau tidak tahan memandang wajah-Ku, sebab tidak ada orang yang memandang Aku dapat hidup” (Kel. 33:20). Musa hanya diijinkan untuk melihat penampakan diri Allah, itupun sebatas punggung-Nya, secara sekilas, sambil TUHAN menutup wajah Musa dengan tangan-Nya (Kel. 33:21-23).

Jangankan Musa yang hanya manusia dan masih berdosa, para serafim di depan tahta Allah saja tidak tahan memandang kemuliaan TUHAN. Mereka harus menutupi wajah dan kaki mereka sambil menyerukan kekudusan Allah (Yes. 6:2). Bait Allah bahkan bergoncang karena seruan para serafim (Yes. 6:4). Tidak mengherankan jika Yesaya merasa begitu takut dan menyadari keseriusan dosanya (Yes. 6:5). Di tempat lain dia mengakui: “Demikianlah kami sekalian seperti seorang najis dan segala kesalehan kami seperti kain kotor” (Yes. 64:6a).

Keempat, mengukur kesalehan diri berdasarkan tuntutan Allah. Sebagian orang merasa tidak begitu berdosa karena mereka membandingkan kesalehan mereka dengan orang lain. Contohnya adalah seorang Farisi dalam perumpamaan Yesus. Orang itu menyombongkan kebaikannya: “Ya Allah, aku mengucap syukur kepada-Mu, karena aku tidak sama seperti semua orang lain, bukan perampok, bukan orang lalim, bukan pezinah dan bukan juga seperti pemungut cukai ini” (Luk. 18:11).

Jika setiap orang menilai diri sendiri dengan jujur dan berdasarkan tuntutan Allah, setiap orang akan menyadari betapa dalamnya dosa-dosa mereka. Tuntutan Allah bagi kita adalah menjadi sempurna seperti Bapa di sorga (Mat. 5:48). Tidak mencapai hal ini berarti berdosa. Kita dituntut untuk setia menaati “segala sesuatu yang tertulis dalam kitab hukum Taurat” (Gal. 3:10). Walau kita menaati seluruhnya tetapi melanggar satu, maka kita dihitung “bersalah terhadap seluruhnya” (Yak. 2:10). Dalam kenyataannya, kita bahkan “bersalah dalam banyak hal” (Yak. 3:2). Yang lebih parah lagi, kita tidak perlu repot-repot berdosa. Jika kita tahu apa yang baik, tetapi tidak melakukannya, kita sudah berdosa (Yak. 4:7). Dari sudut pandang kebenaran ini kita seharusnya berteriak seperti Paulus: “Aku, manusia celaka! Siapakah yang akan melepaskan aku dari tubuh maut ini?” (Rm. 7:24).

AYAT HAFALAN

Lalu kataku: “Celakalah aku! aku binasa! Sebab aku ini seorang yang najis bibir, dan aku tinggal di tengah-tengah bangsa yang najis bibir, namun mataku telah melihat Sang Raja, yakni TUHAN semesta alam.” – Yesaya 6:5.

PERENUNGAN PRIBADI DAN BERBAGI CERITA

1. Pernahkah Anda benar-benar menyadari betapa kotor dan menjijikkannya Anda di hadapan Allah tanpa Anda harus melakukan dosa yang sangat ekstrim? Ceritakan pengalaman Anda!

2. Bagaimana Injil menolong Anda untuk menjaga keseimbangan antara perasaan “sangat kotor dan tidak layak” dengan perasaan “sangat dikasihi dan diterima apa adanya”?

3. Dalam seminggu ini, mintalah maaf kepada seseorang (jika memungkinkan salah satu anggota keluarga sendiri) yang kepadanya Anda pernah melakukan sebuah kesalahan fatal dan sangat menyakitinya. Jika sudah pernah meminta maaf, jelaskan kepada mereka bahwa Anda sekarang jauh lebih bisa memahami keseriusan dosa dan akibatnya.