Sesi 2
PERTOBATAN YANG SEJATI
Banyak orang cenderung memandang pertobatan hanya sebagai perubahan perilaku atau kebiasaan. Hal ini dijadikan ukuran utama dalam menilai kesungguhan pertobatan seseorang. Walau Alkitab juga berbicara tentang “buah-buah yang sesuai dengan pertobatan” (Mat. 3:2, 8; Luk. 3:8; Kis. 26:20), tetapi perubahan perilaku bukan segala-galanya.
Terlalu menekankan pada perilaku justru bisa mengaburkan keunikan konsep Kristiani tentang pertobatan. Jika pertobatan hanya tentang perubahan perilaku, kekristenan telah terjebak pada moralisme: gaya hidup yang baik tetapi terpisah dari Kabar Baik. Bagaimana pertobatan sejati menurut Alkitab?
Pertama, tidak ada pemisahan antara pertobatan dan iman. Baik pertobatan awal (conversion) maupun pertobatan terus-menerus (repentance) merupakan tindakan iman. Yohanes Pembaptis tidak hanya menyerukan pertobatan (dalam arti “perubahan hidup”), tetapi juga iman kepada Mesias (Kis. 19:4 “bahwa mereka harus percaya kepada Dia yang datang kemudian dari padanya, yaitu Yesus”). Tujuan pemberitaan Injil yang dilakukan oleh Paulus adalah “supaya mereka bertobat kepada Allah dan percaya kepada Tuhan kita, Yesus Kristus” (Kis. 20:21). Meminjam ungkapan Paulus, setiap orang percaya harus menunjukkan “ketaatan iman” (Rm. 1:5; 16:26), yaitu ketaatan yang bersumber dari iman (NIV “the obedience that comes from faith”).
Kedua, pertobatan sejati mencakup kesadaran terhadap keseriusan dosa. Pertobatan dimulai dengan kesadaran tentang betapa menjijikkannya dosa di hadapan Allah. Ketika Daud mengingat kejatuhannya dengan Batsyeba, dia berkata: “Sebab aku sendiri sadar akan pelanggaranku, aku senantiasa bergumul dengan dosaku,” lalu dia menambahkan: “Sesungguhnya, dalam kesalahan aku diperanakkan, dalam dosa aku dikandung ibuku” (Mzm. 51:5, 7). Paulus tidak malu mengakui bahwa di antara semua orang yang berdosa “akulah yang paling berdosa” (1Tim. 1:15-16). Tidak ada upaya apapun untuk membuat sebuah kesalahan terlihat wajar atau masuk akal.
Ketiga, pertobatan sejati mencakup kesedihan yang benar. Mereka yang sudah memahami keseriusan dosa dan kejijikan dirinya pasti akan meratapi dosanya. Penyesalan dan kesedihan merupakan bagian penting dalam pertobatan. Jemaat Korintus mengalami “dukacita menurut kehendak Allah” yang membawa pada pertobatan (2Kor. 7:8-10). Yoel menggambarkan kesedihan ini seperti “anak dara yang berlilitkan kain kabung karena mempelai, kekasih masa mudanya” (Yl. 1:8).
Walau pertobatan pasti mencakup kesedihan yang mendalam, tidak setiap tangisan adalah tanda pertobatan (Yl. 2:13). Ada ratapan yang manipulatif: pura-pura bertobat tetapi hanya untuk mendapatkan sesuatu dari Allah (Mal. 2:13). Ada yang menangisi akibat dosa, bukan dosa itu sendiri. Sedih karena dosanya terbongkar. Sedih karena kehilangan banyak hal akibat dosanya.
Keempat, pertobatan sejati mencakup perubahan yang holistik. Pencemaran dosa dalam diri manusia terjadi secara masif: pikiran, perasaan, kehendak, tindakan, dan sebagainya (Ef. 4:17-19; Rm. 3:13-18). Proses menjadi manusia baru juga seharusnya terjadi secara masif. Pertobatan dimulai dari aspek teologis (kesadaran tentang kesucian Allah dan keseriusan dosa). Aspek teologis ini mempengaruhi aspek emosional (terjadi penyesalan dan kesedihan). Pada akhirnya aspek teologis dan emosional akan termanifestasi melalui perubahan yang konkrit.
AYAT HAFALAN
Dosaku kuberitahukan kepada-Mu dan kesalahanku tidaklah kusembunyikan; aku berkata: “Aku akan mengaku kepada TUHAN pelanggaran-pelanggaranku,” dan Engkau mengampuni kesalahan karena dosaku - Mazmur 32:5.
PERENUNGAN PRIBADI DAN BERBAGI CERITA
1. Di antara dua ekstrim – terlalu merasa berdosa dan menganggap remeh dosa – Anda lebih cenderung mengarah ke mana? Ceritakan sebuah contoh konkrit!
2. Halangan apa yang Anda sering alami sehingga tidak mampu menunjukkan pertobatan yang sejati? Bagaimana Injil menolong Anda dalam pergumulan ini?
3. Pilih salah satu dosa yang selama ini Anda masih sering jatuh ke dalamnya. Lakukan disiplin rohani yang khusus selama seminggu untuk menggumulkan dosa tersebut! Disiplin rohani bisa berupa doa-doa yang spesifik, menghafal atau mengamini teks Alkitab yang sesuai, membaca buku rohani yang relevan atau, jika perlu, berpuasa.