Kembali Unduh PDF
Materi DG-2 (BOI)

01 Pertobatan Yang Semu

Sesi 1

PERTOBATAN YANG SEMU

Kita mungkin sudah sering mendengar ungkapan “kapok lombok.” Arti hurufiahnya adalah merasa kewalahan dengan rasa pedas di mulut namun tetap terus mengunyah cabe yang lain. Arti figuratifnya adalah mengaku bertobat tetapi tetap melakukan dosa yang sama. Tindakan seperti ini dapat diumpamakan seperti seekor anjing yang kembali ke muntahnya (Ams. 26:11).

Yang lebih berbahaya adalah pertobatan manipulatif, yaitu upaya untuk memperlihatkan perbuatan baik hanya untuk menutupi kejahatan. Kepada orang banyak yang pergi kepadanya untuk dibaptis, Yohanes Pembaptis berkata: “Hai kamu keturunan ular beludak! Siapakah yang mengatakan kepada kamu melarikan diri dari murka yang akan datang?” (Luk. 3:7). Mengapa dia menolak mereka? Karena mereka masih merasa diri rohani hanya gara-gara menjadi keturunan Abraham secara biologis (Luk. 3:8b). Ini pertobatan yang semu.

Jadi, bagaimana kita dapat mengenali pertobatan yang palsu? Ada beragam cara untuk menjawab pertanyaan ini. Kali ini kita hanya akan berfokus pada satu kisah saja, yaitu pertobatan Saul yang palsu (1Sam. 15). Setelah ditegur oleh Samuel, Saul beberapa kali mengakui dirinya berdosa kepada TUHAN (15:24-25, 30), tetapi kita dengan mudah menemukan kepalsuan dalam pengakuannya.

Pertama, tidak menyadari keseriusan dosanya. Sebelum mendapatkan teguran, Saul merasa dirinya sudah menaati firman TUHAN (15:13b “aku telah melaksanakan firman TUHAN”). Bahkan setelah ditegur dia masih berkata: “Aku memang mendengarkan suara TUHAN dan mengikuti jalan yang telah disuruh TUHAN kepadaku” (15:20). Dari sini terlihat bahwa Saul memandang remeh dosanya. Dia tidak merasa terlalu bersalah.

Sikap ini sangat berbeda dengan pemungut cukai dalam perumpamaan Yesus yang tidak berani melihat ke atas. Dia hanya menunduk sambil berkata: “Ya Allah, kasihanilah aku orang yang berdosa ini” (Luk. 18:13). Respons Saul berbeda dengan Petrus yang berkata: “Tuhan, pergilah daripadaku, karena aku ini seorang berdosa” (Luk. 5:8).

Kedua, memberikan pembelaan atas kesalahannya. Walau mendapat teguran begitu keras, Saul tetap berkali-kali mencoba untuk membenarkan perbuatannya. Dua kali dia berdalih bahwa ternak bangsa Amalek sengaja tidak ditumpas dengan maksud untuk dipersembahkan sebagai kurban kepada TUHAN (15:15, 21). Tiga kali dia melemparkan kesalahan pada rakyatnya (15:15, 21, 24). Dia berdalih: “aku takut kepada rakyat, karena itu aku mengabulkan permintaan mereka” (15:24).

Sikap ini sangat berbeda dengan yang ditunjukkan oleh Daud. Setelah mendengarkan teguran Natan yang begitu keras, Daud berkata: “Aku sudah berdosa kepada TUHAN” (2Sam. 12:13). Tidak ada pembelaan apapun yang diucapkan oleh Daud. Dia tidak mencoba merasionalisasi perbuatannya, menyalahkan keadaan atau orang lain.

Ketiga, tidak menerima konsekuensi dengan baik. Akibat dari dosanya, TUHAN menolak Saul sebagai raja (15:23). Untuk menegaskan hukuman ini, Samuel juga menolak untuk pergi beribadah bersama-sama dengan Saul (15:26). Saul tidak bisa menerima penolakan ini. Dia berkata: “Aku telah berdosa; tetapi tunjukkanlah juga hormatmu kepadaku sekarang di depan para tua-tua bangsaku dan di depan orang Israel” (15:30a).

Sikap ini berbeda dengan sikap seorang penyamun di kayu salib. Melihat temannya mengolok-olok Yesus, dia berkata: “Tidakkah engkau takut, juga tidak kepada Allah, sedang engkau menerima hukuman yang sama? Kita memang selayaknya dihukum, sebab kita menerima balasan yang setimpal dengan perbuatan kita, tetapi orang ini tidak berbuat sesuatu yang salah” (Luk. 23:40-41).

AYAT HAFALAN

Koyakkanlah hatimu dan jangan pakaianmu, berbaliklah kepada TUHAN, Allahmu, sebab Ia pengasih dan penyayang, panjang sabar dan berlimpah kasih setia, dan Ia menyesal karena hukuman-Nya – Yoel 2:13

PERENUNGAN PRIBADI DAN BERBAGI CERITA

1. Apakah Anda pernah atau sedang mengalami “kapok lombok” atas dosa tertentu? Mengapa Anda susah untuk mengendalikannya?

2. Di antara tiga sikap Saul di atas, mana yang paling sering Anda lakukan Mengapa Anda melakukannya? Bagaimana Injil membantu Anda mengatasi kecenderungan ini?

3. Pikirkanlah sebuah kesalahan Anda kepada orang lain yang selama ini Anda berusaha berikan dalih atau pembenaran! Dalam seminggu ke depan, maukah Anda meminta maaf kepada orang itu tanpa memberikan pembelaan apapun?