Sesi 12
MENGEJAR KEKUDUSAN
Alkitab mengajarkan tiga macam pengudusan yang saling berhubungan. Ada pengudusan posisional, yaitu ketika seseorang beriman kepada Yesus Kristus sebagai penyelamat dari semua dosanya maka orang itu disebut kudus (Rm. 6:11, 14; 1Kor. 1:2). Yang ini bersifat lampau (past). Ada juga pengudusan progresif, yaitu proses berkesinambungan untuk menanggalkan manusia lama dan mengenakan manusia baru di dalam Kristus (2Kor. 3:18; Flp. 2:12-13; Kol. 3:10). Yang ini bersifat kini (present). Ada pengudusan final, yaitu ketika semua orang percaya kelak akan dikuduskan seluruhnya (Ef. 1:14; Flp. 3:20-21). Yang ini bersifat nanti (future).
Menjalani proses pengudusan progresif inilah yang menjadi tugas menantang bagi setiap orang percaya. Di satu sisi, apa pun hasil dari proses ini tidak akan mengubah kepastian keselamatan kita. Kita dituntut untuk “mengerjakan” keselamatan dalam arti “work out,” bukan “work for” (Flp. 2:12). Allah juga yang mengerjakan kemauan dan kemampuan untuk menaati Dia (Flp. 2:13). Jika tidak disikapi dengan bijaksana dan seimbang, konsep ini dapat membawa pada kesuaman rohani. Toh hasilnya tidak mengubah keselamatan kita.
Di sisi lain, Alkitab juga menyediakan beragam peringatan keras bagi mereka yang tidak bersungguh-sungguh mengejar kekudusan. Paulus sendiri bahkan pernah berkata: “Tetapi aku melatih tubuhku dan menguasainya seluruhnya, supaya sesudah memberitakan Injil kepada orang lain, jangan aku sendiri ditolak” (1Kor. 9:27). Ada kesadaran tentang potensi krisis dan bahaya di sana. Jika tidak disikapi dengan bijaksana dan seimbang, konsep ini dapat membawa pada fanatisme legalis. Kepastian keselamatan ditentukan oleh kesalehan kita.
Bagaimana kita bisa mengejar kekudusan (Ibr. 12:14) sambil tetap menikmati ketenangan di dalam Kristus? Bagaimana kita dapat menyadari dan menyikapi dengan seimbang bahwa ibarat perjalanan, kepastian keselamatan bukan untuk mengurangi kecepatan. Bukan “santai,” tetapi “tenang.”
Pertama, memahami keselamatan dengan benar. Keselamatan yang benar adalah yang seimbang. Maksudnya, kita bukan hanya diselamatkan dari (hukuman), tetapi sekaligus diselamatkan untuk (Allah). Penebusan Kristus membebaskan kita dari upah dosa, sekaligus dari kuasa dosa. Kita diselamatkan untuk kebenaran. Jadi, keselamatan hanya alat, bukan tujuan ultimat (Ef. 2:8-10).
Di samping itu, Alkitab juga mengajarkan bahwa kehidupan kekal bukan hanya tentang durasi, tetapi kualitas. Semua orang percaya pasti akan menikmati kehidupan kekal yang berbahagia, tetapi mahkota setiap orang tidak sama (2Tim. 4:8). Sebagai contoh, orang-orang yang rendah hati akan menjadi yang terbesar dalam kerajaan sorga (Mat. 18:4). Paulus juga menegaskan bahwa setiap orang akan mendapatkan upah sesuai dengan pekerjaannya (1Kor. 3:8).
Kedua, menumbuhkan kedaruratan. Menjalani kehidupan spiritual seharusnya diwarnai dengan kesadaran tentang kedaruratan (sense of urgency). Perjalanan spiritual seperti pertandingan (2Tim. 2:5; 4:6-8) atau pertempuran (2Tim. 2:3-4), bukan liburan. Untuk menyelesaikan perjalanan ini dengan baik kita perlu melakukan beberapa hal: (1) berfokus pada tujuan (Flp. 3:12-14); (2) menguasai diri (1Kor. 9:26-27); (3) mewaspadai bahaya (Ibr. 12:14-15). Kita tidak bisa bersantai-santai dan berharap ada kemajuan spiritual yang signifikan.
Ketiga, membuang hambatan-hambatan. Seseorang tidak mungkin bisa berlari secara maksimal dengan berbagai beban yang tidak diperlukan, bahkan menjadi penghalang (Flp. 3;13-14; Ibr. 12:1). Mengejar sesuatu seringkali berarti harus mengabaikan yang lain, terutama yang menghambat pengejaran tadi. Apakah selama ini kita bertumbuh dengan baik dan memiliki disiplin rohani yang konsisten? Jika tidak, apa yang menjadi penyebabnya? Kesibukan? Ambisi duniawi? Kebiasaan tertentu? Kekuatiran? Dosa? Rasa bersalah? Karakter negatif? Semua ini perlu dibereskan secara intensional.
Keempat, bersabar dengan prosesnya. Sebagian orang percaya mengalami putus asa karena kurang sabar terhadap kemajuan yang diperoleh. Mereka menginginkan hasil yang signifikan dan instan. Dalam kenyataannya, kita semua masih jatuh bangun dalam perjalanan iman (bdk. Rm. 7:8-25). Solusi untuk situasi ini adalah nasihat Paulus: “memberi diri dipimpin oleh Roh Kudus” (Gal. 5:18). Nasihat ini memiliki aspek aktif: “memberi diri.” Kita yang memutuskan untuk memberi diri. Nasihat ini juga memiliki aspek pasif: “dipimpin oleh Roh Kudus.” Roh yang bekerja dalam kita. Bukan kebetulan jika hasil dari nasihat ini disebut “buah Roh” (Gal. 5:22-23). Buah membutuhkan waktu, tetapi prosesnya tetap harus dimulai dan tidak boleh berhenti.
Kelima, membangun pergaulan yang konstruktif. Allah menciptakan kita sebagai makhluk sosial sehingga saling membutuhkan (Kej. 2:18). Pertumbuhan spiritual dirancang dalam konteks komunal (Ef. 4:11-16). Di sinilah setiap orang perlu memilih di komunitas seperti apa mereka akan berakar. Salah memilih komunitas akan berdampak buruk pada buah yang dihasilkan. “Dengan siapa” mencerminkan “siapa kita” & menentukan “bagaimana kita.” Kita dinasihati bukan bukan hanya untuk mewaspadai pengaruh buruk (Mzm. 1:1; 1Kor. 15:33), tetapi juga untuk membangun diri melalui pertemanan yang sehat (Ams. 27:5-6, 17). Apakah komunitas Kristiani kita sudah autentik (berani membuka diri apa adanya tanpa topeng dan pencitraan), suportif (tidak menghakimi yang rapuh sebaliknya tetap mendukung) dan konstruktif (berani menegus dengan kasih dan kelemahlembutan)?
AYAT HAFALAN
Berusahalah hidup damai dengan semua orang dan kejarlah kekudusan, sebab tanpa kekudusan tidak seorangpun akan melihat Tuhan. - Ibrani 12:14
PERENUNGAN PRIBADI DAN BERBAGI CERITA
1. Antara 0 – 10, seberapa besar rasa urgensitas untuk bertumbuh secara rohani dalam diri Anda? Jelaskan!
2. Apa yang paling menghambat pertumbuhan rohani Anda? Bagaimana Injil menolong Anda mengatasi hambatan ini?
3. Perubahan kecil yang konkrit seperti apa yang Anda akan mulai lakukan dalam minggu ini demi pertumbuhan yang lebih baik?