Sesi 10
MENANG ATAS BERHALA KUASA
Kesukaan manusia pada kuasa sebenarnya wajar dan pada dirinya sendiri tidak keliru. TUHAN menciptakan manusia sebagai untuk menguasai bumi (Kej. 1:26 “supaya mereka berkuasa…”). Sama seperti Allah menamai ciptaan (Kej. 1:5, 8, 10), demikian pula Adam sebagai gambar Allah diberi kuasa untuk menamai semua binatang dan isterinya (Kej. 2:20-23). Jadi, memiliki kuasa adalah bagian dari penciptaan.
Situasi ini mulai berubah pada saat kejatuhan manusia ke dalam dosa. Hawa tergoda untuk memiliki kuasa yang lebih daripada yang semestinya. Kejatuhannya bukan disebabkan oleh penampakan dan rasa buahnya (bdk. Kej. 2:9), melainkan janji (palsu) ular: “pada waktu kamu memakannya matamu akan terbuka, dan kamu akan menjadi seperti Allah, tahu tentang yang baik dan yang jahat (Kej. 3:5).” Ambisi terhadap kuasa ini menjadi semakin besar setelah kejatuhan. Hawa akan “berahi” kepada suaminya, tetapi Adam akan berkuasa atasnya. Objek dari kata “berahi” (Ibrani teshûqâ, lit. “mengingini”) sebenarnya bukan seks, melainkan kuasa. Kata ini juga muncul pada saat dosa “menggoda” (LAI:TB, lit. “mengingini”) Kain, tetapi Kain harus berkuasa atasnya (Kej. 4:7).
Ambisi untuk menjadi seperti Allah merupakan kebodohan yang ironis. Tim Keller berkata: “When human beings try to become more than human being, to be as gods, they fall to become lower than human beings” (Counterfeit Gods, 121). Di sisi lain kita juga dapat mengungkapkan ironi ini dengan kalimat: “Keinginan manusia untuk menjadi ‘seperti Allah’ akhirnya membuat Allah menjadi manusia dalam arti yang sesungguhnya.”
Jika berkuasa pada dirinya sendiri tidak selalu salah, lalu bagaimana kita membedakannya dengan berhala kuasa? Berhala kuasa merujuk pada keinginan yang berlebihan dan penyalahgunaan wewenang, posisi, kekuatan, atau kapasitas demi mendapatkan ketenangan dan keyakinan diri tanpa persandaran pada Allah. Beberapa ide kunci di sini adalah “berlebihan,” “penyalahgunaan,” dan “tanpa persandaran pada Allah.” Selama ketenangan dan keyakinan diletakkan pada diri Allah, kepemilikan atas kuasa bukan suatu dosa. Bagaimana kita dapat mengalahkan berhala kuasa dalam diri kita?
Pertama, mengamati gejala untuk mendiagnosis akar masalah. Gejala bisa berupa ketidaksenangan ketika (a) melihat orang lain yang dominan; (b) merasa bergantung pada faktor eksternal; (c) dibatasi wewenangnya. Akar persoalan bisa pola asuh yang salah (misalnya,orang tua yang lemah) atau pengalaman traumatis tertentu (misalnya, korban pelecehan).
Kedua, membawa luka dan kekuatiran kepada Kristus yang terlihat tidak berdaya. Keselamatan kita diperoleh melalui ketidakberdayaan Kristus di kayu salib. Dia seperti anak domba yang dibawa ke pembantaian (Yes. 53:7). Dia menolak untuk memamerkan kuasa-Nya, bahkan di tengah provokasi banyak orang (Mat. 27:40; Luk. 23:39). Jika Dia memilih untuk memamerkan kuasa-Nya pada saat itu, kita sekarang tidak mungkin memperoleh keselamatan dari-Nya.
Ketiga, mensyukuri apa yang Tuhan percayakan. Berhala kuasa berbicara tentang ketidakpuasan terhadap apa yang ada di tangan dan mencoba mengambil tanggung jawab atau wewenang secara berlebihan. Tugas utama kita bukan menambah kuasa, tetapi mengelolanya secara maksimal untuk kemuliaan Allah.
Keempat, meyakini kebaikan dan kedaulatan Allah. Hawa tergoda ketika kebaikan TUHAN dipertanyakan oleh ular (Kej. 3:1-6). Dia fokus pada satu hal yang Tuhan tidak berikan dan mengabaikan banyak hal yang Tuhan percayakan. Ketenangan kita seharusnya diperoleh dari “menantikan TUHAN dengan tenang” (Yes. 30:15) dan mengakui kecukupan kasih karunia Kristus dalam kelemahan kita (2Kor. 12:10 “sebab jika aku lemah, maka aku kuat”).
Kelima, setia dalam mengoptimalkan hal-hal kecil. Jalan menuju kebesaran bukan melalui kehebatan atau kekuatan, melainkan kesetiaan (Mat. 25:21; Luk. 16:10-13). Yang dikejar seharusnya bukan ambisi atau apresiasi, melainkan dedikasi (Luk. 17:10). Apa yang Tuhan percayakan di tangan kita maksimalkan.
Keenam, berbagi kekuasaan dengan orang lain. Kepemimpinan kolektif akan menghindarkan kita dari penyalahgunaan kekuasaan maupun sindrom mesianis. Kita bukan juru selamat untuk segala hal. Kita perlu melatih diri untuk melawan perasaan superioritas melalui interdependensi yang sehat dalam komunitas (Rm. 3:3-5).
Terakhir, menyerah hasil pada kasih karunia. Ada banyak hal berada di luar kuasa dan wewenang kita. Ketidakpastian dan, bahkan, ancaman di depan (Kis. 20:22-25, 29-30) tidak menghalangi Paulus untuk menyerahkan jemaat Efesus pada TUHAN dan firman kasih karunia-Nya (Kis. 20:32). Jemaat tidak boleh bergantung pada manusia, tidak peduli seberapa hebat kapasitas orang tersebut. Kita perlu mengingat bahwa untuk segala sesuatu ada waktunya, ada orangnya, karena selalu ada kedaulatan TUHAN yang mengatur semuanya.
AYAT HAFALAN
Sebab beginilah firman Tuhan ALLAH, Yang Mahakudus, Allah Israel: "Dengan bertobat dan tinggal diam kamu akan diselamatkan, dalam tinggal tenang dan percaya terletak kekuatanmu." - Yesaya 30:15
PERENUNGAN PRIBADI DAN BERBAGI CERITA
1. Berdasarkan pengalaman atau pengamatan Anda, mengapa banyak orang sangat menyukai kuasa? Apa yang begitu memikat yang dijanjikan oleh kuasa?
2. Di antara 7 langkah di atas, mana yang paling sukar untuk Anda lakukan? Mengapa?
3. Perubahan kecil dan konkrit seperti apa yang Anda akan lakukan dalam seminggu ke depan untuk mengikis berhala kuasa dalam diri Anda?