Sesi 9
MENANG ATAS BERHALA KENYAMANAN
Ada banyak kata atau ide yang berhubungan dengan berhala kenyamanan: kesenangan, kenikmatan, ketenangan, privasi, dan sebagainya. Pada dirinya sendiri menikmati kesenangan dan kenyamanan bukan sebuah dosa. Allah menyediakan kenikmatan bagi manusia. Bahkan tujuan tertinggi manusia adalah memuliakan Allah dan menikmati Dia selama-lamanya. Kemuliaan (Allah) dan kenikmatan (kita) adalah dua sisi dari mata uang yang sama.
Bukan hanya itu saja. Allah adalah Pribadi yang menyukai kesenangan. Selama proses penciptaan alam semesta, Allah melihat untuk menikmati hasil ciptaan-Nya. Dia berkata: “baik” (Kej. 1:4, 10, 12, 18, 21, 25, 31). Dia bahkan beristirahat pada hari ke-7 untuk menikmati seutuhnya (Kej. 2:2-3).
Allah yang menyukai kesenangan juga menyediakan kesenangan bagi manusia. Dia bukan hanya menyediakan apa yang menjadi kebutuhan manusia (Kej. 1:29), tetapi Dia juga “menumbuhkan berbagai-bagai pohon dari bumi, yang menarik dan yang baik untuk dimakan buahnya” (Kej. 2:9). Ada bonus kenikmatan di sana. Alkitab bahkan memerintahkan manusia untuk menikmati pemberian Allah (Pkt. 2:24-26) sambil mengucap syukur kepada-Nya (1Tim. 4:4).
Jadi, bagaimana kita tahu batasan antara mensyukuri kenikmatan dari Tuhan dan memberhalakan kenikmatan? Kenyamanan baru menjadi berhala apabila dikejar sedemikian rupa sehingga tidak mempedulikan Allah sebagai sumbernya dan menjadikan kenyamanan sebagai sumber kebahagiaan kita. Tugas utama kita adalah menerima & bersyukur atasnya, bukan mengejarnya sedemikian rupa.
Berhala kenyamanan mengambil bermacam-macam wujud: cenderung menjadikan keinginan atau kesenangan menjadi “kebutuhan,” menghalalkan segala cara untuk mendapatkan kesenangan, tidak mau melakukan apa yang lebih memuliakan TUHAN demi mempertahankan kenyamaman, tidak serius dengan target dan pencapaian dalam hidup. Masih banyak wujud yang lain. Inti dari semuanya adalah kecintaan pada kesenangan yang berlebihan sehingga menghindari tantangan atau persoalan, padahal hal itu sebenarnya diperlukan bagi perkembangan atau pertumbuhan. Bagaimana kita dapat mengikis berhala kenyamanan dalam diri kita?
Pertama, seperti biasanya, kita mengamati gejala untuk mendiagnosis akar persoalannya. Berhala kenyamanan bisa muncul dari trauma masa lalu (masa kecil yang sering menderita atau dihina) atau pola asuh yang salah (konsumerisme, hedonisme, dsb). Rasa sakit karena penderitaan akhirnya menciptakan tekad yang salah dalam hati untuk menghindari segala macam penderitaan. Kenyamanan masa kecil juga membuat seseorang tidak tahan dengan penderitaan.
Kedua, senantiasa mensyukuri kerelaan Kristus untuk merengkuh ketidaknyamanan demi keselamatan kita. Seluruh kehidupan Kristus di dunia dari lahir (inkarnasi) sampai mati (penyaliban) merupakan sebuah proses ketidaknyamanan yang tidak terkatakan (keterbatasan, penolakan, penderitaan, dsb). Apapun ketidaknyamanan yang kita alami, tidak akan melebihi ketidaknyamanan Kristus (Yoh. 15:20). Kita tidak pernah sendirian menghadapi ketidaknyamanan.
Ketiga, menyadari pagar-pagar kenyamanan kita. Apa yang selama ini menjadi zona nyaman kita? Hal-hal apa saja yang paling mengganggu kenyamanan kita? Apa yang menghalangi kita untuk berani keluar dari zona nyaman? Dengan mengetahui semua tombol kenyamanan ini kita dimampukan untuk mengelolanya secara lebih intensional dan spesifik. Jika tombol-tombol ini berhasil ditaklukkan, area-area lain pasti lebih mudah untuk dikendalikan.
Keempat, melatih diri untuk mencintai apa yang kita tidak sukai. Sesuai naluri, kita cenderung egois dan menghindari kesusahan. Ini bisa menghalangi kita untuk mengalami pertumbuhan personal dan menjadi berkat bagi orang lain. Untuk mengatasi hal ini kita perlu membiasakan diri untuk meletakkan apa yang “benar” dan “harus dilakukan” di atas apa yang mendatangkan “kesenangan” dan “kenyamanan.” Apapun yang lebih memuliakan Tuhan harus menjadi pilihan, baik dalam hal kesenangan maupun kesusahan (Flp. 1:20).
Kelima, belajar berbagi hidup sampai kita “merasa sakit.” Banyak orang memberi diri bagi orang lain tetapi hanya sebatas sewajarnya, sekadar untuk menghilangkan rasa bersalah karena tidak melakukannya. Sebagai orang yang sudah diselamatkan melalui Injil kita seharusnya belajar untuk memberi, bukan sekadar memberi dari kelimpahan, tetapi dari kekurangan (Mrk. 12:44). Bukan sekadar memberi karena diminta, tetapi meminta untuk dilibatkan dalam pemberian (2Kor. 8:3-4). Pendeknya, kita belajar melangkah “extra miles” (Mat. 5:41).
Keenam, mengembangkan tingkat fleksibilitas dalam diri kita. Tombol-tombol kenyamanan dalam hidup kita memberi batasan yang sempit bagi ruang gerak kita. Hidup menjadi kurang fleksibel. Kita tidak berani melangkah keluar dari zona nyaman. Kebiasaan ini menyebabkan kita kurang bisa menikmati dinamika kehidupan, padahal ada banyak kejutan dalam kehidupan yang berada di luar perkiraan. Untuk mengatasi hal ini kita perlu belajar untuk berfokus pada apa yang esensial. Jangan takut untuk mulai belajar merengkuh hal-hal baru yang tidak menyenangkan. Mulailah dari area-area yang kita anggap kurang esensial dalam hidup kita.
Ketujuh, bertahan selama mungkin dalam ketidaknyamanan. Keadaan yang tidak menyenangkan seringkali menjadi berkat yang tersamarkan bagi pertumbuhan spiritual. Jangan keluar dari situasi yang tampak buruk sebelum kita menjadi pribadi yang lebih baik. Menjadi pribadi yang lebih baik adalah lebih baik daripada memiliki keadaan yang lebih baik. Penderitaan adalah ruang latihan, baik bagi iman maupun kedewasaan.
AYAT HAFALAN
2 Selagi dicobai dengan berat dalam pelbagai penderitaan, sukacita mereka meluap dan meskipun mereka sangat miskin, namun mereka kaya dalam kemurahan. 3 Aku bersaksi, bahwa mereka telah memberikan menurut kemampuan mereka, bahkan melampaui kemampuan mereka. – 2 Korintus 8:2-3
PERENUNGAN PRIBADI DAN BERBAGI CERITA
1. Apa saja pagar-pagar kenyamanan kita yang menghalangi kita untuk berani keluar mengerjakan kehendak Allah?
2. Apakah Anda sudah merasa memberi sampai terluka? Ceritakan!
3. Tindakan konkrit apa yang Anda akan lakukan dalam seminggu ke depan untuk mempraktekkan “mencintai apa yang kita tidak sukai”?