Sesi 8
MENANG ATAS BERHALA PENGAKUAN
Banyak orang senang pada saat mendapat pujian. Pada dirinya sendiri perasaan seperti ini adalah wajar. Alkitab bahkan kadangkala menampilkan hal ini secara positif. Sama seperti emas dan perak yang berharga karena sudah teruji, demikian pula “orang dinilai menurut pujian yang diberikan kepadanya” (Ams. 27:21). Allah bahkan menjanjikan pujian, kehormatan, dan kemuliaan bagi mereka yang imannya teruji (1Pet. 1:7).
Jika pada dirinya tidak salah, lalu apa yang salah dengan pengakuan dari orang lain? Apa batasan antara sekadar pujian dengan berhala pengakuan? Secara sederhana berhala pengakuan dapat dipahami sebagai hasrat yang besar terhadap keberhasilan sehingga jika dirinya gagal, dia merasa tidak utuh. Keberhasilan atau kegagalan dianggap menentukan identitas, keberhargaan, kebahagiaan atau rasa aman seseorang. Dengan kata lain, merasa senang ketika mendapatkan pujian adalah wajar, tetapi mencari kesenangan dalam pujian tetap tidak dapat dibenarkan.
Berhala pengakuan mengambil beragam wujud. Berikut ini adalah beberapa wujud yang umum: (1) berusaha supaya orang lain mengetahui keberhasilannya; (2) mencari dan menikmati pujian dari orang lain; (3) merasa berharga jika dibutuhkan; (4) marah jika ada orang yang meragukan usahanya; (5) membandingkan diri dengan kapasitas atau keberhasilan orang lain; (6) sangat terganggu atau takut mengalami kegagalan. Wujud yang paling transparan adalah menyombongkan keberhasilan. Wujud yang paling tersamar adalah minder karena tidak sepintar orang lain atau takut gagal.
Dalam taraf tertentu godaan ke arah pengakuan memang wajar karena manusia diciptakan sebagai gambar Allah yang berkarya. Ada kehormatan dalam diri manusia. Ada kapasitas untuk menghasilkan sesuatu yang signifikan. Sebagai gambar Allah, manusia diberi kapasitas untuk menjadikan bumi sebagai tempat yang baik untuk didiami (Kej. 1:26-27). Bahkan setelah manusia jatuh ke dalam dosa, kapasitas ini tidak hilang sepenuhnya (Kej. 4:20-22).
Permasalahannya adalah natur berdosa dalam diri manusia. Inti kesombongan adalah upaya untuk menggantikan posisi Allah dalam menerima pujian maupun menentukan keberhasilan. Kita berusaha mengisi “kekosongan jiwa” dengan pencapaian. Kita bahkan menggunakan keberhasilan untuk melawan atau menggantikan Allah (Kej. 11:4; bdk. 1:26, 28). Jadi, walau Alkitab sudah memberi nasihat yang jelas (Ams. 27:2), bahkan peringatan yang tegas (Mat. 23:12), banyak orang tetap sukar melepaskan diri dari godaan untuk sombong. Bagaimana kita dapat mengikis berhala pengakuan?
Pertama, mengamati gejala untuk mendiagnosis akar masalah. Walau ada beragam wujud, kita perlu secara khusus mengamati yang tersamar. Setelah mengetahui gejala, kita berusaha mengidentifikasi akar persoalan: tuntutan keluarga yang berlebihan? Hinaan dari orang lain? Sering dibandingkan? Tekanan sosial?
Kedua, merengkuh keutuhan diri dalam Kristus. Roma 3:23-24 mengajarkan bahwa selama hidup di dunia ini status kita adalah “orang yang selalu gagal tetapi telah dihargai mahal oleh TUHAN.” Gagal, karena kita kehilangan (lit. “fall short”) kemuliaan Allah. Dihargai, karena ditebus dengan darah yang mahal.
Ketiga, mensyukuri kelemahan diri. Memiliki kelemahan memang tidak menyenangkan, tetapi kadangkala menguntungkan. Kelemahan diri adalah berkat terselubung (2Kor. 12:7-10). Kita dijaga dari kesombongan (12:7, 10). Kita semakin menghargai kasih karunia Allah (12:9). Kita semakin menyadari dan mengalami kekuatan Kristus (12:9). Pendeknya, kita tidak perlu hebat untuk menjadi kuat.
Keempat, mengakui kebergantungan pada Allah dalam segala hal. Sombong adalah tindakan yang konyol. Tidak ada yang kita punya yang kita tidak terima dari Allah (1Kor. 4:7). Jangankan untuk berhasil, untuk hidup saja kita perlu berkata: “Jika Tuhan menghendakinya” (Yak. 4:15).
Kelima, bersikap autentik terhadap kelemahan diri. Penawar racun kesombongan yang efektif adalah mengisahkan kelemahan dan berbagai perasaan yang mewakilinya supaya kekuatan kasih karunia menjadi lebih kentara. Paulus yang memiliki begitu banyak talenta dan jasa saja berani mengakui bahwa dia sempat putus asa (2Kor. 1:8-9). Dia tidak malu untuk mengakui ketakutan dan kegentaran jiwanya (1Kor. 2:3). Dengan menceritakan kelemahan diri di depan publik, kita menjinakkannya supaya tidak muncul di depan publik.
Keenam, mengelola kerja keras dari lensa kasih karunia. Kasih karunia merupakan tenaga penggerak yang begitu besar untuk bekerja keras tetapi sekaligus tempat yang nyaman untuk beristirahat pada saat tidak berdaya maupun bersandar pada saat gagal (1Kor. 15:9-10). Keberhasilan maupun kegagalan tidak mengubah siapa kita. Jadi, kita pikiran kita mungkin terus berkelana dan tangan kita terus bekerja, tetapi hati kita tetap harus damai sejahtera.
Ketujuh, menyikapi kegagalan dengan benar. Kegagalan merupakan momok paling menakutkan bagi kita yang memiliki berhala pengakuan. Ketika gagal, kita tidak perlu merasa hidup kita hancur berantakan, karena tetap ada pengharapan: TUHAN adalah bagian kita (Mzm. 73:26) dan siap menopang kita menopang kita (Mzm. 37:24; 145:14; Ams. 24:16). Kita tidak perlu memberi dalih maupun mencari kambing hitam untuk menyelamatkan reputasi diri (bdk. 1Sam. 15:15, 21).
AYAT HAFALAN
Demikian jugalah kamu. Apabila kamu telah melakukan segala sesuatu yang ditugaskan kepadamu, hendaklah kamu berkata: Kami adalah hamba-hamba yang tidak berguna; kami hanya melakukan apa yang kami harus lakukan - Lukas 17:10
PERENUNGAN PRIBADI DAN BERBAGI CERITA
1. Antara 1-10, seberapa besar godaan ke arah berhala pengakuan dalam diri Anda? Jelaskan!
2. Apakah wujud paling dominan dari berhala ini dalam diri Anda?
3. Hal konkrit apa yang Anda akan lakukan untuk menciptakan kebiasaan baru yang mengikis berhala pengakuan?