Kembali Unduh PDF
Materi DG-3

01 Pertumbuhan dan Pelayanan

Sesi 1

PERTUMBUHAN & PELAYANAN

Pelayanan dan pertumbuhan spiritual seharusnya tidak perlu dipertentangkan. Pelayanan bisa menjadi salah satu sarana pertumbuhan spiritual. Melalui pelayanan kita belajar untuk memberi diri bagi orang lain (melawan egoisme dan individualisme), bekerja sama dengan orang lain (saling memahami dan menerima kelemahan masing-masing), dan mengasah ketrampilan yang Tuhan percayakan (optimalisasi talenta).

Sayangnya, hubungan yang sehat antara pelayanan dan pertumbuhan spiritual seringkali terwujud. Sebaliknya, pelayanan menjadi kendala dalam pertumbuhan spiritual. Pelayanan sering menjadi tempat pelarian yang membahayakan. Kesibukan pelayanan membuat sebagian orang melupakan hubungan pribadi dengan Tuhan. Yang lebih parah, banyak pelayan merasa tidak bisa keluar dari situasi ini. Gereja sangat membutuhkan tenaga mereka. Bagi yang mencari kepuasan diri, pelayanan merupakan makanan empuk bagi berhala pengakuan dan penerimaan. Bagi yang kewalahan dengan tekanan pelayanan, pelayanan menjadi rutinitas yang membosankan. Mereka terpaksa melayani, tetapi dengan setengah hati. Melayani Tuhan, tetapi tidak menikmati Dia.

Ini jelas bertentangan dengan prinsip Alkitab. Kondisi spiritual para pemimpin (termasuk pelayan) selalu diletakkan di depan pelayanan. Kepada para penatua Efesus Paulus berkata: “Karena itu jagalah dirimu dan jagalah seluruh kawanan” (Kis. 20:28a). Kepada Timotius, dia memberi nasihat: “Awasilah dirimu sendiri dan awasilah ajaranmu” (1Tim. 4:16). Dinamika pelayanan gereja seharusnya memperhatikan prinsip: “pertumbuhan rohanimu lebih penting daripada pelayananmu.” Jika prinsip ini tidak dihidupi, gereja telah mengeksploitasi dan memanipulasi para pelayan. Tenaga mereka dimaksimalkan, tetapi pertumbuhan rohani mereka diabaikan.

Jika ini yang terjadi, kita tidak dapat berharap banyak dari pelayanan yang diberikan. Kondisi spiritual mempengaruhi kondisi pelayanan. Kita tidak bisa memberi apa yang kita sendiri tidak miliki. Bukan hanya itu, jika situasi ini terus terjadi, kekeringan dan kejatuhan sudah menanti.

Bagaimana menyeimbangkan pelayanan dan pertumbuhan spiritual?

Pertama, menyadari bahwa pelayanan merupakan penyerahan diri kepada Allah, baru kepada umat Allah. Ketika memberikan kesaksian tentang kemurahhatian jemaat di propinsi Makedonia, Paulus menyatakan bahwa jemaat Makedonia memberikan diri mereka, pertama- tama kepada Allah, kemudian oleh karena kehendak Allah juga kepada para rasul(2Kor. 8:5). Allah di depan, umat Allah menyusul di belakang. Prinsip yang sama diajarkan oleh Paulus di Roma 12:1-8. Sebelum kita melayani sesama tubuh Kristus sesuai dengan karunia masing- masing (Rm. 12:3-8), kita perlu mempersembahkan tubuh kita kepada Allah sebagai persembahan yang hidup, kudus, dan berkenan kepada-Nya (Rm. 12:1) melalui kehidupan yang berbeda dengan dunia ini (Rm. 12:2).

Kedua, memiliki kesadaran diri dan disiplin rohani. Pelayanan bukan perjalanan untuk mencari kesenangan. Ada banyak tantangan dan halangan di sepanjang jalan. Paulus sangat menyadari situasi ini. Itulah sebabnya dia selalu memiliki tujuan yang jelas dan disiplin rohani yang baik (1Kor. 9:26-27). Jangan sampai di tengah semua kesibukan pelayanan, dia sendiri malah

“ditolak” (1Kor. 9:27b). Ditolak di sini tidak selalu berarti kehilangan keselamatan, tetapi, yang pasti, gagal mendapatkan kemenangan dalam pertandingan iman.

Ketiga, merayakan kasih karunia dalam segala hal. Pelayanan bukan hanya sebuah perjalanan yang “tidak menyenangkan,” tetapi sekaligus juga panjang dan banyak godaan. Bertahan dalam pelayanan bukan sesuatu yang mudah untuk dilakukan. Puji Tuhan, Allah telah menyediakan kekuatan. Jika pelayanan kita digerakkan oleh kasih karunia Allah kita memiliki modal untuk bertahan dan berkembang. Menyadari kekuatan kasih karunia menghindarkan kita dari bahaya kesombongan sekaligus keputusasaan (1Kor. 15:10). Kesombongan menjatuhkan, keputusasaan melemahkan.

Keempat, memiliki mentor dalam pertumbuhan spiritual maupun pelayanan. Pelayanan yang baik tidak hanya membutuhkan aturan, melainkan juga bimbingan. Tidak hanya sistem pengelolaan (management system), melainkan sistem dukungan (support system). Alkitab memberikan beragam contoh tentang prinsip ini. Yosua dibimbing oleh Musa (Bil. 11:28; 27:18-23). Paulus dibimbing oleh Barnabas (Kis. 9:27; 11:25; 12:25; 14:12; 15:37-38; bdk. 2Tim.

4:11). Timotius dibimbing oleh Paulus (2Tim. 3:10-11). Pendeknya, manajemen pelayanan di gereja perlu mengembangkan pola pemagangan, delegasi, dan pemantauan.

Kelima, mengembangkan komunitas yang autentik dan suportif. Pelayanan merupakan pelayanan publik. Sayangnya, pertumbuhan spiritual para pelayan seringkali terpisah dari kemitraan publik. Mereka merasa melayani banyak orang, tetapi tidak pernah dilayani oleh orang lain. Situasi ini tidak sejalan dengan prinsip Alkitab. Yesus sendiri melayani dan dikuatkan oleh komunitas. Dia tidak malu untuk mengungkapkan ketakutan-Nya dan meminta dukungan doa dari murid-murid-Nya (Mat. 26:38). Paulus menyadari pelayanan adalah peperangan rohani, karena itu dia juga meminta jemaat untuk mendoakan dia dan pelayanannya (Ef. 6:18-20).

Keenam, mengembangkan komunitas yang konstruktif. Memiliki komunitas yang terbuka dan mendukung adalah satu hal. Memiliki komunitas yang konstruktif adalah hal yang berbeda. Pertumbuhan spiritual yang baik terjadi ketika besi menajamkan besi (Ams. 27:17). Setiap orang membutuhkan tegoran. Tidak suka berkonflik (unnecessary conflict), tetapi berani merengkuh konflik jika benar-benar tidak terhindarkan (inevitable conflicts) dan diperlukan (necessary conflicts). Relasi Barnabas – Paulus adalah salah satu contohnya. Sebuah model komunitas rohani yang tidak sempurna tetapi tetap terbuka; tidak mencari konflik, tetapi berani saling mengoreksi (Kis. 15:36-41; Gal. 2:11-14; bdk. 1Sam. 2:29).

Ayat Hafalan Awasilah dirimu sendiri dan awasilah ajaranmu. Bertekunlah dalam semuanya itu, karena dengan berbuat demikian engkau akan menyelamatkan dirimu dan semua orang yang mendengar engkau (1 Timotius 4:16). Refleksi dan sharing kelompok 1.Apakah Anda pernah (atau sedang) mengalami stagnasi pertumbuhan rohani di tengah

pelayanan yang terlihat sedang “berkembang”? Mengapa bisa terjadi seperti ini?

2.Bagaimana Injil Kristus menolong Anda untuk berani terbuka dengan orang lain sehingga

Anda mendapatkan dukungan dan tegoran yang Anda berikan?

3.Cara-cara praktis yang Anda akan lakukan dalam seminggu ke depan untuk mengelola

pergumulan dalam pelayanan sehingga tidak mengganggu pertumbuhan spiritual?