Sesi 6
KETAATAN KEPADA PIMPINAN
Disadari atau tidak, kita sedang berada di tengah semangat jaman yang semakin anti-otoritas. Manusia semakin individualistis. Kebenaran dianggap personal. Institusi dipandang sebagai bentuk kekerasan. Masing-masing merasa berhak menentukan apa saja bagi dirinya. Semangat yang sama sudah menjalar di banyak gereja. Otoritas Alkitab dipertanyakan. Rohaniwan dianggap simbol otoritas yang harus dipertanyakan, bahkan, jika perlu, dilawan.
Keadaan ini diperburuk dengan berbagai isu tentang kegagalan para pemimpin rohani, baik dalam bentuk penyalahgunaan kekuasaan maupun kejatuhan moral. Kata “kepemimpinan” terdengar jauh lebih negatif daripada sebelumnya. Respons yang lebih seimbang terhadap isu ini sebenarnya sudah disediakan oleh Alkitab. Alkitab yang mengajarkan ketaatan kepada para pemimpin rohani (Ibrani 13:1) adalah kitab yang sama yang jujur terhadap kegagalan para pemimpin rohani (1Tim. 5:19-20) atau potensi penyalahgunaan otoritas mereka (Kis. 20:30; 1Pet. 5:2). Otoritas tetap ditegaskan, tetapi kegagalan juga diungkapkan. Pendeknya, terlepas dari kelemahan para pemimpin, kepemimpinan tetap dipertahankan.
Kebenaran ini diajarkan secara konsisten di Alkitab. Kepemimpinan adalah rancangan Allah sejak awal. Adam diberi otoritas untuk menamai Hawa (Kej. 2:23) sekaligus bertanggung jawab atas kejatuhan mereka ke dalam dosa (Kej. 3:9-12). Adam adalah kepala, Hawa sebagai penolong (Kej. 2:18). Perebutan atau penyalahgunaan kekuasaan adalah akibat dari kejatuhan ke dalam dosa. Hawa “menginginkan kekuasaan” (LAI:TB “berahi”) dari Adam & Adam mengalahkan Hawa dalam upaya itu (Kej. 3:16). Kepala menjadi penguasa, penolong menjadi perongrong.
Bahkan jika kita menarik lebih ke belakang lagi, kepemimpinan bersumber dalam diri Allah Tritunggal sendiri. Satu hakikat, tiga pribadi. Walau secara hakikat adalah satu dan sama, ada semacam “tingkatan” dalam relasi dan peranan masing-masing Pribadi (1Kor. 11:3b “Kepala dari Kristus ialah Allah.” Selama menambahkan hakikat manusia di bumi ini Kristus juga memberikan teladan ketaatan. Penulis Surat Ibrani berkata: “Dan sekalipun Ia adalah Anak, Ia telah belajar menjadi taat dari apa yang telah diderita-Nya, dan sesudah Ia mencapai kesempurnaan-Nya, Ia menjadi pokok keselamatan yang abadi bagi semua orang yang taat kepada-Nya” (Ibr. 5:8-9).
Bahkan jika kita proyeksikan jauh ke depan kepada kekekalan kelak, kita akan mendapati bahwa di langit dan bumi yang baru masih ada kepemimpinan. Alkitab memberikan beberapa petunjuk yang cukup jelas. Sorga masih dikaitkan dengan beberapa simbol kepemimpinan: 24 tua-tua dan mahkota mereka (Why. 4:4, 10). Para tua-tua tersebut dibedakan dari kumpulan orang banyak (Why. 5:9-12). Jika ada tua-tua berarti ada rakyat yang dipimpin. Jika ada mahkota berarti ada yang memerintah.
Alkitab bukan hanya menegaskan pentingnya kepemimpinan dan keharusan untuk menghormati para pemimpin. Alkitab juga menyediakan pedoman untuk melakukan ketaatan tersebut. Dalam sesi ini kita hanya akan menyoroti nasihat Alkitab di Ibrani 13:17 “Taatilah pemimpin-pemimpinmu dan tunduklah kepada mereka, sebab mereka berjaga-jaga atas jiwamu, sebagai orang-orang yang harus bertanggung jawab atasnya. Dengan jalan itu mereka akan melakukannya dengan gembira, bukan dengan keluh kesah, sebab hal itu tidak akan membawa keuntungan bagimu.”
Pertama, ketaatan tidak terpisahkan dari integritas para pemimpin. Para pemimpin di ayat ini adalah orang-orang yang sama di ayat 7. Mereka bukan hanya mampu menyampaikan firman Allah (Ibr. 13:7a “yang telah menyampaikan firman Allah kepadamu”), tetapi juga menghidupi firman itu (Ibr. 13:7b “Perhatikanlah akhir hidup mereka dan contohlah iman mereka”). Selama yang disampaikan adalah kebenaran, kita patut menaatinya. Jika mereka sekaligus menjadi teladan, kita patut memberikan penghargaan yang lebih (lihat 1Tim. 5:17 “Penatua-penatua yang baik pimpinannya patut dihormati dua kali lipat, terutama mereka yang dengan jerih payah berkhotbah dan mengajar”).
Kedua, ketaatan bukan pengultusan individu. Yang ditaati di ayat ini adalah “pemimpin- pemimpin” (Ibr. 13:17). Jamak, bukan orang tertentu. Penghargaan ini lebih ke arah penghargaan terhadap otoritas (baca: posisi kepemimpinan). Maksudnya, karena mereka adalah pemimpin, mereka harus dihormati. Allah sudah menempatkan mereka sebagai pemimpin di gereja lokal. Sudah sepatutnya kalau jemaat menaati mereka.
Ketiga, ketaatan berbentuk keyakinan dan ketundukan. Ibrani 13:17 dimulai dengan kata kerja imperatif “taatilah” (peithesthe, LAI:TB, juga mayoritas versi). Kata dasar peithō berkaitan dengan keyakinan (lihat Ibr. 6:9; 13:17), sehingga lebih tepat diterjemahkan “memiliki keyakinan” (NIV “have confidence in your leaders”). Perintah “tunduklah” (hypeikete) berasal dari kata kerja hypeikō , yang memiliki arti dasar “menarik diri” atau “memberi jalan.” Penggunaannya di berbagai konteks menyiratkan upaya untuk menyerah pada suatu kekuasaan (misalnya, 4 Makabe 6:35). Dalam konteks kepemimpinan, tunduk berarti meletakkan pendapat dan kehendak pribadi di bawah keputusan para pemimpin.
Keempat, ketaatan memengaruhi kualitas pemimpin. Pemimpin yang baik akan mendorong ketaatan dari yang dipimpin. Begitu pula sebaliknya, ketaatan dari yang dipimpin akan membantu pemimpin melakukan tugasnya dengan lebih baik. Mereka akan memimpin “dengan gembira, bukan dengan keluh kesah” (Ibr. 13:17). Suasana seperti ini sangat diperlukan, karena sebagai pemimpin mereka sudah memiliki begitu banyak tanggung jawab dan tugas yang berat.
Dengan ketaatan, jemaat telah meringankan beban para pemimpin.
Kelima, ketaatan memengaruhi kondisi yang dipimpin. Setelah frasa “mereka akan melakukannya dengan gembira, bukan dengan keluh kesah,” penulis Surat Ibrani melanjutkan dengan sebuah alasan: “sebab hal itu tidak akan membawa keuntungan bagimu.” Ada keuntungan-keuntungannya jemaat yang dipertaruhkan dalam dinamika kepemimpinan gereja lokal. Jika pemimpin melayani dengan sukacita yang diuntungkan bukan hanya mereka, tetapi juga jemaat yang dipimpin. Hal ini berkaitan dengan tanggung jawab para pemimpin terhadap jemaat (Ibr. 13:17 “mereka berjaga-jaga atas jiwamu”). Ketaatan jemaat membuat para pemimpin bersemangat dalam menjaga jiwa-jiwa. Tugas ini bukan dipandang sebagai beban, melainkan kepercayaan.
Keenam, ketaatan tertinggi ditujukan kepada Allah. Karena pemimpin dipilih oleh Allah, mereka juga bertanggung jawab kepada-Nya (Ibr. 13:17 “sebagai orang-orang yang harus bertanggung jawab atasnya”). Bertanggung jawab (apodidōmi ) bisa berbentuk menerima hasil positif (Ibr. 12:11) atau akibat buruknya (Ibr. 12:16). Intinya, setiap orang akan menerima konsekuensi dari tindakannya.
Ayat Hafalan Ingatlah akan pemimpin-pemimpin kamu, yang telah menyampaikan firman Allah kepadamu. Perhatikanlah akhir hidup mereka dan contohlah iman mereka (Ibrani 13:7).
Refleksi dan Sharing Kelompok 1.Jika dinilai 1 -10 berapa tingkat ketundukan Anda terhadap pemimpin untuk hal-hal yang tidak melanggar Alkitab tetapi Anda tidak setujui? Jelaskan! 2.Bagaimana Anda selama ini menjaga keseimbangan antara menegor pemimpin (ofensif) dan berserah pada penghakiman Allah atas mereka (permisif)? Bagaimana Injil menolong
Anda menyeimbangkan dua hal ini?
3.Pikirkan suatu tindakan (bisa dua atau tiga sekaligus) yang Anda akan lakukan seminggu ke depan yang menyiratkan ketaatan Anda kepada pemimpin (misalnya, mungkin meminta maaf, memberi dukungan, menyampaikan tegoran yang lemah-lembut, dan sebagainya)!