Kembali Unduh PDF
Materi DG-3

05 Penghargaan Dalam Pelayanan

Sesi 5

PENGHARGAAN DALAM PELAYANAN

Dalam sesi sebelumnya kita sudah belajar bahwa pelayanan bukan ajang aktualisasi diri. Kita tidak sepenting yang kita kira. Kita tidak seyogyanya mencari pengakuan melalui pelayanan. Apresiasi sejati datang di akhir jaman dari Tuhan. Kebenaran di atas tidak berarti meniadakan nilai penting apresiasi dari orang lain. Pelayanan memang bukan untuk mencari penghargaan, tetapi penghargaan merupakan bagian tidak terelakkan dalam pelayanan. Selama apresiasi tidak dicari (baca: dijadikan motivasi), penghargaan dalam pelayanan bukan sebuah kekeliruan.

Alkitab sendiri menyediakan banyak contoh tentang hal ini. Di akhir jaman nanti Allah memberi penghargaan kepada para hamba-Nya (Mat. 25:21, 23 “Baik sekali perbuatanmu itu, hai hambaku yang baik dan setia” (Mat. 25:21, 23). Paulus juga mengapresiasi rekan pelayanan maupun jemaat tertentu. Tentang Timotius, dia menulis: “karena tak ada seorang padaku, yang sehati dan sepikir dengan dia dan yang begitu bersungguh-sungguh memperhatikan kepentinganmu” (Flp. 2:20). Kepada Timotius dia memberikan komentar positif tentang Markus: “Jemputlah Markus dan bawalah ia ke mari, karena pelayanannya penting bagiku” (2Tim. 4:11b). Tentang jemaat Filipi, dia berkata: “Kamu sendiri tahu juga, hai orang-orang Filipi; pada waktu aku baru mulai mengabarkan Injil, ketika aku berangkat dari Makedonia, tidak ada satu jemaatpun yang mengadakan perhitungan hutang dan piutang (lit. “pemberiaan & penerimaan”) dengan aku selain dari pada kamu” (Flp. 4:15).

Ada dua alasan utama mengapa apresiasi dalam pelayanan sangat diperlukan. Apresiasi diperlukan karena setiap jenis pelayanan memang penting bagi tubuh Kristus. Sebagai contoh, jabatan penatua adalah pekerjaan yang indah (1Tim. 3:1). Tidak mengagetkan jika setiap penatua patut dihormati, terutama yang memimpin dengan baik dan yang menyampaikan firman Tuhan (1Tim. 5:17). Jangankan para penatua, setiap pelayan dalam jemaat juga patut dihargai, termasuk yang menurut pandangan banyak orang pelayanannya kurang terhormat 1Kor. 12:23 “dan kepada anggota-anggota tubuh yang menurut pemandangan kita kurang terhormat, kita berikan penghormatan khusus. Dan terhadap anggota-anggota kita yang tidak elok, kita berikan perhatian khusus.”

Apresiasi juga diperlukan karena apresiasi termasuk “buah pelayanan” yang dapat memberi semangat kepada para pelayan. Alkitab memberikan beberapa contoh tentang orang-orang yang berputus asa karena tidak melihat hasil pelayanannya, misalnya Elia (1Raj. 19:4, 9-10, 13-14, 18), Yeremia (Yer. 20:7, 14-15), Yohanes Pembaptis (Mat. 11:1-3, 11). Sebaliknya, mereka yang sempat melihat buah pelayanan hatinya akan disegarkan. Tentang beberapa rekan pelayanannya, Paulus berkata: “mereka menyegarkan rohku dan roh kamu,” lalu dia melanjutkan: “Hargailah orang-orang yang demikian!” (1Kor. 16:18).

Walau pada dirinya sendiri apresiasi dalam pelayanan tidak selalu salah, kita harus berhati-hati dalam memberikan penghargaan. Yang harus diwaspadai adalah dampak dari apresiasi yang diberikan. Penghargaan dalam pelayanan memang berguna, tetapi jangan sampai memberi makan berhala. Untuk mencegah dampak buruk yang mungkin muncul, kita perlu pedoman dan batasan.

Dalam hal ini kita akan belajar dari cara Paulus menghargai pelayanan jemaat Filipi kepada

dirinya, termasuk pelayanan Epafroditus, orang yang mereka utus untuk membawa persembahan dan melayani Paulus selama berada di penjara rumah. Mari kita mulai dengan apresiasi terhadap Epafroditus. Paulus menulis: “Sementara itu kuanggap perlu mengirimkan Epafroditus kepadamu, yaitu saudaraku dan teman sekerja serta teman seperjuanganku, yang kamu utus untuk melayani aku dalam keperluanku” (Flp. 2:25).

Paulus menyebut Epafroditus terutama sebagai saudara. Artinya, hubungan mereka didasarkan pada pertobatan. Di dalam Kristus mereka menjadi saudara seiman. Setiap pelayan terutama adalah saudara, bukan hanya rekan kerja. Paulus juga menyebut Epafroditus sebagai rekan sekerja. Sebutan ini cukup menarik. Epafroditus lakukan bagi Paulus mungkin terlihat biasa dan tidak membutuhkan keterampilan apa-apa. Walau demikian, Paulus tidak malu menyebut dia sebagai “rekan sekerja.” Jadi, tidak ada pelayan yang tidak berarti. Tidak ada istilah “asisten” dalam pelayanan. Semua adalah rekan, bukan hanya pembantu.

Paulus juga menyebut Epafroditus sebagai teman seperjuangan. Dalam sebutan ini yang disorot bukan hanya posisi atau jenis pelayanan, melainkan cara melayani. Epafroditus melayani Paulus sampai sakit keras dan nyaris mati (Flp. 2:26, 30). Semangat pelayanannya luar biasa sehingga pantas disebut “teman seperjuangan” bagi Paulus. Sekarang mari kita memerhatikan apresiasi Paulus kepada jemaat Filipi secara umum (Filipi 4:10-19). Ada banyak hal indah yang bisa dipelajari.

Pertama, berpusat pada Allah. Paulus memulai ucapan terima kasihnya dengan kalimat: “Aku sangat bersukacita dalam Tuhan” (Flp. 4:10a). Sukacitanya tidak diletakkan pada orang maupun barang, melainkan Tuhan. Yang menggerakkan jemaat Filipi untuk melayani dia adalah Allah sendiri. Jika setiap penghargaan dalam pelayanan dimulai dengan pengakuan bahwa Allah yang menggerakkan para pelayan, kita sedang menutup ruang untuk kesombongan.

Kedua, berfokus pada yang paling penting. Setelah mengungkapkan syukur kepada Allah, Paulus menerangkan alasan di balik ungkapan syukur itu: “bahwa akhirnya pikiranmu dan perasaanmu bertumbuh kembali untuk aku. Memang selalu ada perhatianmu, tetapi tidak ada kesempatan bagimu” (Flp. 4:10b). Bagi Paulus yang penting bukan persembahan mereka, tetapi perhatian mereka. Bahkan seandainya tidak selalu ada kesempatan untuk mewujudkan perhatian tersebut, Paulus tetap bersukacita. Kasih lebih penting daripada pelayanan maupun karunia rohani (1Kor. 13:1-3). Jika pelayanan digerakkan oleh kasih, para pelayan tidak akan mencari kepentingan diri sendiri, termasuk aktualisasi diri.

Ketiga, tidak mengeksploitasi kekurangan atau kebutuhan. Kalimat terakhir Paulus di 4:10 mungkin bisa di(salah)tafsirkan sebagai sindiran halus atau isyarat tertentu supaya jemaat lebih sering memberikan persembahan. Untuk mengantisipasi hal itu, Paulus dengan tegas menyatakan bahwa dia tidak mau memanfaatkan situasinya yang sedang dalam penderitaan (Flp. 4:11a). Dia telah belajar untuk mencukupkan diri, baik dalam kekurangan maupun kelimpahan (Flp. 4:11b-12). Yang dia andalkan bukan bantuan dari manusia, melainkan kekuatan ekstra dari Kristus (Flp. 4:13). Jika para pelayan dihargai hanya gara-gara mereka menjadi solusi bagi suatu kebutuhan, kita mungkin sedang memberi makan berhala pengakuan dalam diri seseorang.

Keempat, menegaskan signifikansi atau kontribusi secara personal. Perkataan Paulus di 4:10-13 sekilas mungkin terkesan kurang mengakui nilai penting dari persembahan jemaat Korintus. Dia seolah-olah tidak terlalu membutuhkan persembahan itu. Kesan ini tentu saja keliru. Paulus

tetap mengakui bahwa apa yang dilakukan oleh mereka adalah “baik.” Dia bahkan memberi sentuhan personal untuk pengakuan itu dengan kalimat: “kamu telah mengambil bagian dalam kesusahanku” (Flp. 4:14). Kebaikan jemaat bukan hanya penting bagi pelayanan (komunal), tetapi juga bagi diri Paulus sendiri (personal). Jika setiap pelayan merasakan dan mengungkapkan kehadiran dan dukungan rekan pelayan secara personal, masing-masing akan semakin dikuatkan.

Kelima, mengaitkannya dengan manfaat rohani yang luas. Walau sentuhan personal tidak boleh diremehkan, pelayanan tidak boleh berhenti pada tingkat personal. Yang penting bukan penderitaan Paulus diringankan, tetapi sumbangsih bagi kemajuan Injil (Flp. 4:15-16). Meminjam istilah Paulus, apa yang dilakukan oleh jemaat Filipi merupakan salah satu wujud: persekutuan dalam Berita Injil (Flp. 1:5 “persekutuan” = lit. “kemitraan” [RSV/NIV/ESV] atau “partisipasi” [NASB]). Manfaat lain berhubungan dengan jemaat Filipi sendiri. Paulus menegaskan bahwa buah dari persembahan mereka akan memperbesar keuntungan mereka sendiri (Flp. 4:17b). Mereka memang melayani bukan untuk mendapatkan keuntungan tertentu, tetapi dalam kebaikan dan kedaulatan Allah mereka tetap akan mendapatkannya. Ada berkat rohani dan upah kekal yang menanti mereka. Jika setiap pelayan selalu diingatkan tentang buah rohani yang luas dalam kerajaan Allah, mereka tidak akan mencari “buah-buah” yang sepele, apalagi untuk kepentingan diri sendiri.

Keenam, menyoroti perkenanan Allah atas pelayanannya. Pada akhirnya yang paling penting bukan apa yang dilakukan untuk manusia, melainkan untuk Allah. Yang perlu diperhatikan bukan respons manusia terhadap pelayanan kita, tetapi perkenanan Allah. Dalam hal ini Paulus meyakini bahwa apa yang dilakukan oleh jemaat Filipi adalah “suatu persembahan yang harum, suatu korban yang disukai dan yang berkenan kepada Allah” (Flp. 4:18). Jika perkenanan Allah selalu menjadi pusat perhatian, setiap pelayan akann lebih berhati-hati menjaga hati mereka dari ambisi yang tidak kudus maupun berhala.

Ketujuh, mendoakan berkat Allah untuk optimalisasi pelayanan. Paulus menutup ucapan terima kasihnya dengan sebuah keyakinan yang indah: “Allahku akan memenuhi segala keperluanmu menurut kekayaan dan kemuliaan-Nya dalam Kristus Yesus” (Flp. 4:19). Dia bisa saja berdoa bagi mereka untuk banyak hal. Yang menarik, kali ini dia secara khusus berdoa untuk pemeliharaan Allah yang melimpah atas keperluan mereka. Pemeliharaan ini akan memampukan mereka untuk melanjutkan partisipasi mereka bagi Injil. Dengan demikian perhatian dan pelayanan mereka akan menjadi lebih optimal. Tidak ada apresiasi yang lebih indah daripada memberitahu rekan pelayan bahwa mereka berada dalam doa-doa kita, bahwa kita selalu mendoakan untuk pelayanan mereka.

Ayat Hafalan Karena itu yang penting bukanlah yang menanam atau yang menyiram, melainkan Allah yang memberi pertumbuhan. Baik yang menanam maupun yang menyiram adalah sama; dan masing-masing akan menerima upahnya sesuai dengan pekerjaannya sendiri (1 Korintus 3:7-8). Refleksi dan Sharing Kelompok 1.Apakah Anda pernah bermasalah ketika menerima atau tidak menerima apresiasi dari orang lain (misalnya, kurang nyaman, tergoda untuk sombong, merasa kurang

diperhatikan, dsb)? Perasaan mana yang paling dominan?

2.Bagaimana Anda selama ini mengelola perasaan itu? Bagaimana Injil Kristus menolong

Anda dalam upaya ini?

3.Pikirkanlah beberapa orang yang Anda akan berikan apresiasi sesudah pertemuan ini! Pikirkan pula bentuk-bentuk apresiasi konkrit yang Anda akan lakukan untuk mereka!