Kembali Unduh PDF
Materi DG-3

04 Bahaya Aktualisasi Diri Dalam Pelayanan

Sesi 4

BAHAYA AKTUALISASI DIRI DALAM PELAYANAN

Manusia memiliki beragam kebutuhan. Ada kebutuhan dasar yang bersifat material (misalnya makanan, minuman, pakaian). Ada kebutuhan emosional yang mencakup kasih, kebermilikan, keberhargaan, dan sebagainya. Ada pula kebutuhan untuk aktualisasi diri. Abraham Maslow menjelaskan aktualisasi diri dalam kalimat berikut: “Manusia harus menjadi apa yang dia bisa” (what a man can be, he must be).

Memiliki beragam kebutuhan merupakan sesuatu yang alamiah, bahkan tidak terelakkan. Yang menjadi masalah adalah bagaimana seseorang memahami dan memenuhi kebutuhan itu. Sebagai contoh adalah aktualisasi diri. Di satu sisi, jika dipahami dan dikelola dengan baik, hal ini bisa memberikan kesadaran tentang tujuan (sense of purpose) dan menjadi daya penggerak yang besar untuk pertumbuhan personal. Di sisi lain, aktualisasi diri bisa menjadi jebakan yang membahayakan jika dijadikan fondasi keberhargaan maupun kebahagiaan. Harga diri seharusnya tidak ditentukan oleh prestasi.

Godaan di atas menjadi semakin besar di tengah semangat jaman yang menekankan kelebihan manusia. Gerakan Jaman Baru memberi suntikan motivasi humanistik bahwa manusia bisa menjadi apa saja karena dalam diri manusia ada hakikat ilahi. Apa saja yang dipikirkan atau diimpikan akan menjadi kenyataan. Humanisme sekuler mencoba meletakkan manusia di luar kontrol Allah. Manusia dipercaya bisa menjalani hidup tanpa memercayai Allah.

Ada beragam contoh konkrit bagaimana manusia salah memahami dan memenuhi kebutuhan untuk aktualisasi diri. Salah satunya adalah menjadikan pelayanan sebagai sarana aktualisasi diri. Sebagai contoh, beberapa orang mencoba “menebus” kegagalan dalam keluarga, studi, atau pekerjaan melalui keberhasilan dalam pelayanan gerejawi, padahal seluruh aspek kehidupan sehari-hari merupakan pelayanan kepada Tuhan. Jiwa yang haus penerimaan dan pengakuan mencoba dipuaskan melalui apresiasi dan prestasi dalam pelayanan. Pendeknya, pelayanan menjadi sumber makanan bagi berhala tertentu dalam diri seseorang.

Untuk mengatasi godaan di atas setiap pelayan perlu senantiasa mempunyai kesadaran tentang beberapa kebenaran berikut ini.

Pertama, kita bukan siapa-siapa. Hawa jatuh ke dalam dosa karena tergoda untuk melampaui kodratnya. Gambar Allah (Kej. 1:26-27) ingin menjadi “seperti Alllah” (Kej. 3:1-6). Godaan yang sama masih ada, bahkan semakin nyata. Kita cenderung menilai diri terlalu tinggi dari yang semestinya. Kita sering tergoda untuk mendahului dan melampaui orang lain. Setiap pelayan seharusnya melatih diri untuk selalu berkata: “Kami adalah hamba-hamba yang tidak berguna; kami hanya melakukan apa yang kami harus lakukan” (Luk. 17:10).”

Kedua, kita tidak bisa melakukan apa-apa. Alkitab menyediakan kebenaran yang mungkin menyakitkan tetapi memberi kelegaan: kita lemah dan terbatas dalam banyak hal. Kita seumpama “cacing atau ulat” (Yes. 41:14), debu (Mzm. 103:14), atau uap (Yak. 4:14). Bahkan orang kaya hanya seperti bunga rumput yang sementara (Yak. 1:9-11). Tanpa Kristus, kita tidak dapat melakukan apa-apa, seperti carang tidak dapat bertumbuh jika lepas dari pokoknya (Yoh.

15:5). Bahkan untuk hidup kita harus berkata: “Jika Tuhan menghendakinya” (Yak. 4:15).

Ketiga, Allah tidak membutuhkan kita. Sebagai Pencipta alam semesta, Allah tidak membutuhkan apa-apa dari kita (Kis. 17:24-25 “tidak dilayani oleh tangan manusia, seolah-olah Ia kekurangan apa-apa”). Jika tidak ada seorang manusia pun yang menyembah Dia, Allah dapat

menjadikan keturunan Abraham dari batu-batu (Mat. 3:9). Kita tidak seberapa penting seperti yang kita kira. Semua yang kita punya adalah kasih karunia. Paulus menegor jemaat Korintus yang sombong dengan pertanyaan retoris yang tegas: “Sebab siapakah yang menganggap engkau begitu penting? Dan apakah yang engkau punyai, yang tidak engkau terima?” (1Kor. 4:7a).

Keempat, keberhargaan diri tidak terletak pada pelayanan. Ketika seseorang menjadikan (keberhasilan) pelayanan segala-galanya dalam hidupnya, dia akan mudah berputus asa apabila pelayanan tidak berjalan seperti yang dia harapkan. Nabi Elia adalah contohnya. Setelah mengalahkan ratusan nabi Baal (1Raj. 18) dia berharap bahwa seluruh Israel akan berbalik kepada TUHAN. Kenyataannya, nyawanya justru terancam karena perintah Izebel, isteri raja (1Raj. 19:1-3) Melihat hasil yang tidak sesuai harapan, Elia meminta TUHAN mencabut nyawanya saja (1Raj. 19:4). Kita seharusnya meletakkan sukacita pada keselamatan, bukan pelayanan (Luk. 10:20). Pada apa yang Allah lakukan bagi kita, bukan sebaliknya. Kita berharga karena Allah telah membeli kita dengan darah yang mahal (1Pet. 1:18-19). Bapa tidak menyayangkan Anak-Nya dan memberikan-Nya kepada kita (Rm. 8:32).

Kelima, penggerak utama dalam pelayanan adalah kasih karunia. Setiap orang memang harus melayani secara maksimal. Pertanyaannya, apa yang menjadi penggeraknya? Jika kerja keras kita tidak digerakkan dan didasarkan pada kasih karunia, kita sedang berdosa, bahkan di tengah pelayanan kita. Kita sedang merealisasikan ambisi diri yang tidak kudus. Setiap pelayan seharusnya bekerja lebih keras daripada sebelumnya, tetapi digerakkan oleh kasih karunia (1Kor. 15:10). Dengan kekuatan kasih karunia, kita mampu melampaui keterbatasan keadaan maupun harapan dalam pelayanan (2Kor. 8:1-4). Melalui kasih karunia, kita meyakini bahwa segala jerih-payah kita dalam pelayanan tidak akan sia-sia (1Kor. 15:58).

Keenam, pelayanan adalah tentang pemberian diri. Seperti yang sudah dibahas pada sesi-sesi sebelumnya, pelayanan adalah pemberian diri; pertama-tama kepada Allah, tetapi juga kepada sesama orang percaya (2Kor. 8:5b). Tidak ada yang istimewa dari hal ini. Sebagaimana Kristus menjadi manusia untuk melayani dan memberikan diri bagi banyak orang (Mat. 20:28), demikian pula dengan kita dalam pelayanan (2Kor. 8:5). Melalui pelayanan kita belajar untuk mengasihi, bukan memanipulasi, orang lain. Memberi, bukan mengambil.

Ketujuh, kebahagiaan berasal dari apresiasi ultimat dari Allah. Pada akhirnya yang berhak menilai pelayanan kita bukan orang lain, bukan pula diri kita sendiri (1Kor. 4:3-4a). Hanya Allah yang berhak melakukannya (1Kor. 4:4b “Dia, yang menghakimi aku, ialah Tuhan”). Yang kita nantikan bukan aktualisasi diri maupun apresiasi manusia, melainkan sebuah kalimat indah dari Allah: “Hai hambaku yang baik dan setia” (Mat. 25:21, 23; 1Kor. 4:5b). Pertanyaannya, apakah

kita sudah menjadi pelayan yang “dapat dipercayai” (1Kor. 4:2)?

Berdasarkan semua penjelasan di atas kita belajar bahwa pelayanan adalah pemberian diri, bukan aktualisasi diri. Kecuali pelayanan dimulai dari kesadaran diri yang benar dan pemberian diri yang sungguh-sungguh, pelayanan akan menjadi manipulasi terhadap orang lain. Kita hanyalah hamba yang tidak berguna. Jika demikian, tidak ada orang yang terlalu penting sampai tidak bisa digantikan oleh orang lain.

Ayat Hafalan Mereka memberikan lebih banyak dari pada yang kami harapkan. Mereka memberikan diri mereka, pertama-tama kepada Allah, kemudian oleh karena kehendak Allah juga kepada kami (2 Korintus 8:5). Refleksi dan Sharing Kelompok

1.Antara 1-10 seberapa sering Anda tergoda untuk menjadikan pelayanan sebagai ajang aktualisasi diri? Jelaskan! 2.Di antara 7 (tujuh) konsep di atas poin mana yang Anda paling sukar untuk hidupi

secara konkrit? Bagaimana seharusnya Injil menolong Anda di poin tersebut?

3.Pernahkah Anda berselisih dengan sesama pelayan karena Anda sedang mengaktualisasikan diri? Dalam seminggu ke depan carilah waktu untuk meminta maaf dan menjelaskan kepada orang tersebut sesuai materi hari ini!