Sesi 3
PENGHIBURAN DALAM PELAYANAN
Pelayanan adalah sebuah perjalanan iman yang panjang dan sukar. Panjang, karena pelayanan dibangun di atas kasih dan komitmen. Sukar, dalam pelayanan selalu ada tuntutan dan persoalan. Pendeknya, pelayanan bukan untuk mereka yang menyukai kenyamanan. Di tengah perjalanan ini tidak jarang para pelayan berada pada posisi yang dilematis. Di satu sisi mereka mengalami kelelahan dan ingin berhenti di tengah jalan. Di sisi lain mereka merasa bersalah jika merealisasikan maksud tersebut. Tanpa disadari para pelayan mengambil jalan tengah yang membahayakan, yaitu tetap melayani di tengah kemandekan rohani. Tetap melayani tetapi setengah hati dan tanpa energi.
Sebagai sebuah komunitas yang suportif, gereja seharusnya menyediakan beragam dukungan bagi para pelayan. Setiap orang seyogyanya menjadi “penjaga sesama” (brother’s keeper, Kej. 4:9b). Jangankan para pelayan, Yesus sendiri meminta dukungan dari murid-murid-Nya. Dengan terbuka Dia berkata: “Hati-Ku sangat sedih, seperti mau mati rasanya. Tinggallah di sini dan berjaga-jagalah dengan Aku.” (Mat. 26:38). Ketika murid-murid gagal memberikan dukungan, Yesus mendapatkannya dari seorang malaikat (Luk. 22:43-44 “Maka seorang malaikat dari langit menampakkan diri kepada-Nya untuk memberi kekuatan kepada-Nya. Ia sangat ketakutan dan makin bersungguh-sungguh berdoa. Peluh-Nya menjadi seperti titik-titik darah yang bertetesan ke tanah”).
Sistem dukungan dalam pelayanan sangat diperlukan oleh para pelayan, terutama ketika mereka berada dalam pergumulan. Paulus memberikan kesaksian tentang prinsip pelayanan ini. Dia menyebut keluarga Onesiforus sebagai orang-orang yang telah berulang-ulang menyegarkan hatinya karena mereka tidak malu mengunjungi Paulus di dalam penjara (2Tim. 1:16). Ketika Paulus menghadapi berbagai tantangan eksternal dan internal, dia mengaku telah mendapatkan penghiburan dari Allah melalui kedatangan Titus (2Kor. 7:5-6).
Ada beragam bentuk dukungan yang diperlukan dalam pelayanan. Dalam sesi ini kita akan belajar tentang hal ini dari kehidupan dan pelayanan Barnabas. Nama aslinya adalah Yusuf. Para rasul menjuluki dia “Barnabas,” yang berarti “anak penghiburan” (Kis. 4:36). Yang memberikan pengakuan bukan hanya satu orang maupun orang awam, melainkan “para rasul.” Istilah “anak” menyiratkan bahwa tindakan itu merupakan karakter dominan Barnabas. Dalam ungkapan yang lebih populer, dari sononya dia memang sudah terkenal begitu. Kata “penghiburan” (paraklēsis) berhubungan dengan kata kerja parakaleō, yang secara hurufiah berarti memanggil seseorang di sebelahnya. Dalam Perjanjian Baru kata ini memiliki jangkauan arti yang cukup luas: mendorong, membela, menasihati, dsb.
Apa saja yang dilakukan oleh Barnabas sampai dia diberi julukan tersebut?
Pertama, pemberian. Ketika Roh Kudus dicurahkan ke atas 120 pengikut mula-mula, terjadi banyak perubahan yang signifikansi dalam diri mereka. Gaya hidup mereka berubah secara drastis (Kis. 2:42-47). Salah satunya adalah kebiasaan untuk saling berbagi. Barnabas turut dalam gerakan murah hati ini. Dia menjual ladangnya dan menyerahkan hasilnya kepada para rasul untuk dibagikan kepada jemaat-jemaat yang membutuhkan (Kis. 4:36-37). Tidak mengherankan jika di mana saja Barnabas berada, banyak orang mengenal dia sebagai orang yang baik (Kis. 11:24, 27-30; 12:25).
Kedua, kepercayaan. Barnabas merupakan figur penting bagi Paulus. Di awal pelayanan Paulus, tidak semua orang memercayai dia atau berani menggabungkan diri bersama dengan dia (Kis. 9:26), Maklum, dia adalah mantan penganiaya jemaat yang kejam. Di tengah situasi seperti ini Barnabas tampil sebagai penjamin. Dia memberikan kesaksian tentang pertobatan dan keberanian Paulus (Kis. 9:27). Dengan jaminan dari Barnabas ini, saudara-saudara yang lain akhirnya berani menerima Paulus di tengah mereka.
Ketiga, nasihat. Ketika korban penganiayaan di Yerusalem melarikan diri ke perantauan, sebagian dari mereka memberitakan Injil di sana, sehingga terciptalah jemaat di Antiokhia (Kis. 11:20-21). Melihat perkembangan ini gereja induk di Yerusalem segera mengutus orang yang dapat dipercayai untuk menggembalakan mereka. Pilihan jatuh pada Barnabas (Kis. 11:22). Walau yang dilakukan oleh Barnabas di sana pasti banyak, yang disorot hanya dua: bersukacita dan menasihati mereka (Kis. 11:23). Tidak lupa sifat Barnabas yang dominan juga disebutkan: orang baik, penuh dengan Roh Kudus dan iman. “Orang baik” bahkan diletakkan di posisi awal untuk penekanan. Semua tindakan dan sifat positif ini dipakai oleh TUHAN untuk mendatangkan banyak orang ke dalam pertobatan (Kis. 11:24).
Keempat, optimalisasi. Keadaan jemaat Antiokhia semakin berkembang sejak Barnabas berada di sana. Menariknya, Barnabas masih merasa perlu untuk mendatangkan Paulus ke sana. Selama setahun mereka berdua melayani di Antiokhia (Kis. 11:25-26). Mengapa Barnabas memerlukan Paulus? Jawabannya sederhana: jemaat Antiokhia bersifat multi-etnis (Kis. 11:19-20). Sama seperti mereka, Paulus juga sosok multi-etnis (Kis. 22:3; Flp. 4:4-6). Dia lahir dan dibesarkan di perantauan (sehingga memahami budaya non-Yahudi) tetapi dididik secara Ibrani (sehingga memahami budaya Yahudi). Sebenarnya Barnabas mampu menggembalakan dan mengembangkan gereja di Antiokhia sendiri, tetapi dia memang sedang mengembangkan potensi dalam diri Paulus.
Kelima, mentoring. Kemitraan antara Barnabas dan Paulus terus berlanjut di luar pelayanan gerejawi. Dalam ladang misi Barnabas bertindak sebagai senior, tetapi Paulus yang paling banyak berbicara. Hal ini terlihat dari respons penduduk Listra terhadap mujizat-mujizat yang mereka lakukan di sana. Mereka berdua dianggap sebagai jelmaan dewa-dewa Yunani. Menariknya, Barnabas diperlakukan sebagai Zeus, sementara Paulus sebagai Hermes (Kis.
14:11-12). Zeus adalah dewa tertinggi. Hermes adalah penerjemah atau juru bicaranya.
Keenam, keberanian. Sifat baik Barnabas tidak menghalangi dia untuk berani bersuara. Sama seperti dia berani berbicara di depan para rasul untuk menjamin kesungguhan pertobatan Paulus (Kis. 9:26-27), demikian pula dia berani menentang dengan keras dan membantah orang- orang yang mengajarkan ajaran yang keliru (Kis. 15:1-2; juga 13:46; 15:26). Akhirnya mereka berdua diutus oleh jemaat untuk menemui para rasul dan para penatua di Yerusalem untuk menyelesaikan perbedaan pendapat tersebut (Kis. 15:2). Tegoran bukan negasi dari kebaikan.
Ketujuh, kesempatan. Relasi Barnabas dan Paulus yang sudah terjalin begitu lama akhirnya retak juga. Mereka berselisih tajam tentang satu hal: memberi kesempatan lagi kepada Yohanes Markus untuk menemani mereka dalam perjalanan misi. Yohanes Markus pernah meninggalkan mereka berdua dalam perjalanan misi sebelumnya. Barnabas tetap ingin mengajak dia, Paulus menolak usulan itu dengan keras. Akhirnya Paulus menolak Barnabas berpisah dan melakukan misi mereka masing-masing (Kis. 15:37-39). Alkitab memberi petunjuk bahwa keputusan Barnabas lebih bijaksana. Yohanes Markus berubah, bahkan menjadi pribadi yang sangat penting bagi Paulus (2Tim. 4:11).
Terlepas dari semua kelebihan yang dimilikinya, Barnabas tetap bukan penghibur yang sempurna. Dia melakukan sebuah kesalahan besar, yaitu bersikap munafik di depan saudara-
saudara seiman di Antiokhia dan rombongan dari Yersualem. Begitu fatalnya kesalahan ini sampai-sampai Paulus menegor dia di depan publik (Gal. 2:13). Dari peristiwa ini kita belajar bahwa dukungan dan penghiburan dari saudara seiman tidak boleh dijadikan topangan utama. Manusia bisa berselisih dan berpisah (seperti Barnabas dan Paulus). Manusia bisa mengecewakan (seperti kemunafikan Barnabas).
Puji Tuhan, Allah Bapa, melalui karya Kristus, sudah menyediakan penghiburan sempurna. Kristus menjanjikan “penghiburan berlimpah-limpah” (2Kor. 1:5). Di dalam Dia “ada nasihat, ada penghiburan kasih, ada persekutuan Roh, ada kasih mesra dan belas kasihan” (Flp. 2:1). Dia menyediakan penghiburan yang selalu ada sampai kekal (2Tes. 2:16-17). Ayat Hafalan Bagi orang yang demikian sudahlah cukup teguran dari sebagian besar dari kamu, sehingga kamu sebaliknya harus mengampuni dan menghibur dia, supaya ia jangan binasa oleh kesedihan yang terlampau berat (2 Korintus 2:6-7).
Refleksi dan Sharing Kelompok
1.Apakah di bidang/komisi pelayanan Anda sudah tercipta budaya “anak penghiburan”?
Poin mana yang paling kurang terlihat?
2.Bagaimana dengan Anda sendiri? Poin mana yang Anda paling lemah? Mengapa?
3.Dalam seminggu ke depan, rencanakan dan lakukan satu tindakan konkrit kepada rekan pelayan lain untuk menghidupi semangat “anak penghiburan”!