Kembali Unduh PDF
Materi DG-3

02 Kesatuan Orang Percaya

Sesi 2

KESATUAN ORANG PERCAYA

Sejak awal manusia diciptakan sebagai makhluk sosial. Tidak baik jika mereka seorang diri saja (Kej. 2:18). Masing-masing saling membutuhkan & menopang satu sama lain (Kej. 2:18). Laki- laki sebagai kepala, perempuan sebagai penolong. Ada perbedaan, tetapi untuk satu tujuan. Yang satu membutuhkan lainnya. Rancangan ini tercemar oleh dosa. Ketika Adam dan Hawa jatuh ke dalam dosa, relasi mereka rusak. Adam menyalahkan Hawa (Kej. 3:12). Keduanya saling ingin menguasai (Kej. 3:16).

Hawa akan “berahi kepada suamimu” (lit. “menginginkan suamimu”). Yang diinginkan adalah kekuasaan (bdk. teshûqâ di 4:7). Sebagai response, Adam justru menguasai Hawa (Kej. 3:16b). Sang kepala sekarang menjadi penguasa. Konflik terus terjadi sepanjang sejarah manusia. Bahkan di tengah perkembangan gereja mula- mula perselisihan tetap menjadi salah satu persoalan utama dalam gereja mula-mula selain ajaran sesat & penganiayaan (Kis. 15:35-41; Rm. 14:1-4; 1Kor. 1:10-11; Flp. 4:1-2). Para janda penerima bantuan diakonia berselisih (Kis. 6:1-2). Paulus dan Barnabas berselisih (Kis.

15:36-41). Bahkan jemaat Korintus berselisih dengan Paulus (1Kor. 4:1-5), perintis gereja di sana (1Kor. 4:15). Situasi ini sangat ironis. Tanda murid Kristus adalah saling mengasihi (Yoh. 13:35 “Dengan demikian semua orang akan tahu, bahwa kamu adalah murid-murid-Ku, yaitu jikalau kamu saling mengasihi”). Yang terbesar dalam kekristenan adalah kasih (1Kor. 13:13). Percuma sebuah gereja memiliki begitu banyak karunia rohani jika mereka tidak memiliki kasih (1Kor.

13:1-3).

Bagaimana menumbuhkan kesatuan orang percaya?

Pertama, menyadari dan meyakini kesatuan fundamental di dalam Kristus. Kesatuan bukan sesuatu yang kita ciptakan. Di dalam Kristus kita sudah memiliki kesatuan spiritual (Ef. 4:4-6 “satu tubuh, dan satu Roh, satu pengharapan, satu Tuhan, satu iman, satu baptisan, satu Allah dan Bapa”). Kesatuan yang disediakan ini bersifat fundamental, jauh lebih mendasar daripada semua perbedaan superfisial yang ada di antara orang percaya. Jadi, tugas kita hanya memelihara (Ef. 4:3), bukan menghasilkan.

Kedua, merenungkan dan menghidupi Injil yang telah mempersatukan. Kita bukan hanya menerima kesatuan spiritual dari Kristus, tetapi sekaligus memiliki Injil sebagai landasan untuk membangunan kesatuan tersebut. Keharmonisan adalah gaya hidup yang berpadanan dengan Injil (Flp. 1:27, “berpadanan dengan Injil” = lit. “worthy of the Gospel”; Ef. 4:1 “worthy of the calling”). Kita sama-sama berdosa (Rm. 3:23). Tidak ada seorang pun yang lebih baik daripada yang lain. Melalui penebusan Kristus kita juga sama-sama telah diperdamaikan, baik secara vertikal dengan Allah maupun horizontal dengan sesama orang percaya (Ef. 2:14-18).

Ketiga, mewaspadai peperangan antar berhala. Salah satu penyebab perselisihan adalah berhala dalam diri masing-masing orang. Berhala adalah objek cinta manusia yang menggerakkan keputusan, reaksi, perasaan dan tindakannya. Perselisihan seringkali terjadi karena berhala seseorang terusik atau tidak diberi makan. Sebagai contoh, seorang dengan berhala kenyamanan atau kontrol tidak akan suka diberi tantangan baru, apalagi yang berada di luar kebiasaan atau keahlian mereka. Demikian pula seorang dengan berhala penerimaan akan memaknai perbedaan pendapat dari orang lain sebagai penolakan terhadap dirinya.

Keempat, mengembangkan sikap rendah hati yang Kristosentris. Penyebab lain dari perselisihan adalah arogansi. Sumber perselisihan sebenarnya bukan perbedaan, melainkan kesombongan: merasa diri lebih benar & dibutuhkan. Di Filipi 2:2-4 Paulus mengajarkan bahwa kerendahhatian sejati ditandai dengan dua hal: kurang memikirkan diri kita sendiri (think less of ourselves) dan mengganggap diri kita sendiri kurang (think of ourselves less). Paulus lalu menampilkan Kristus sebagai teladan sempurna dari kerendahhatian (Flp. 2:5-8). Kristus bukan hanya rendah hati, tetapi melayani dengan rendah hati.

Kelima, mengembangkan kesadaran tentang tujuan. Perselisihan seringkali terjadi karena masing-masing melupakan kesamaan tujuan dalam pelayanan, yaitu membangun tubuh Kristus (Ef. 4:12) sehingga semua menjadi serupa dengan Kristus (Ef. 4:13-16). Sangat ironis jika tubuh Kristus justru terpecah-belah gara-gara masalah dalam pelayanan dan para pelayan gagal menunjukkan karakter Kristus dalam manajemen konflik. Para pelayan seharusnya “sehati sepikir, dalam satu kasih, satu jiwa, satu tujuan” (Flp. 2:2).

Keenam, belajar menerima perbedaan-perbedaan superfisial. Dalam kekristenan, kesatuan bukan keseragaman. Perbedaan adalah kekayaan, bukan sumber persoalan. Lagipula semua perbedaan yang mungkin ada tidak sebanding dengan kesatuan fundamental di dalam Kristus (Kol. 4:4-6). Untuk hal-hal yang tidak esensial, kita harus belajar untuk tidak saling menghakimi (Rm. 14:3-4), sebaliknya untuk saling menerima (Rm. 15:7). Prinsip yang kita hidupi bukan “sama-sama menang” (win-win solution), melainkan “yang kuat menanggung yang lemah” (Rm.

15:1).

Ketujuh, menjaga perkataan sebaik-baiknya. Menerima perbedaan dan kesalahan orang lain bukan berarti meniadakan ruang untuk disiplin dan tegoran. Selain berprinsip “penuh kasih karunia dan kebenaran” (Yoh. 1:14) dan “speaking the truth in love” (Ef. 4:15 ESV), kita juga perlu memikirkan secara serius “apa, mengapa, kapan, dan untuk apa” di balik tegoran yang kita akan berikan. Paulus memberikan nasihat yang baik di Efesus 4:29: “Janganlah ada perkataan kotor keluar dari mulutmu, tetapi pakailah perkataan yang baik (apa) untuk membangun (mengapa), di mana perlu (kapan), supaya mereka yang mendengarnya, beroleh kasih karunia” (untuk apa).

Ayat Hafalan Kita, yang kuat, wajib menanggung kelemahan orang yang tidak kuat, dan jangan kita mencari kesenangan kita sendiri (Roma 15:1). Refleksi dan sharing kelompok 1.Apakah Anda pernah (atau sedang) berada dalam relasi yang tidak harmonis dengan orang lain? Sudahkah Anda mengambil waktu khusus untuk merenungkan dan menghidupi

semangat: “Aku adalah persoalan terbesarku”?

2.Di antara 7 langkah tadi, mana yang paling sukar Anda lakukan? Mengapa?

3.Dalam seminggu ke depan, tiga sikap yang mencerminkan Injil seperti apa yang Anda akan lakukan? Jelaskan!